Alodokter  |  Informasi Kesehatan Terlengkap dan Terpercaya

Bedah Saraf, Ini yang Harus Anda Ketahui

Bedah saraf adalah suatu prosedur medis yang bertujuan untuk melakukan diagnosis atau mengobati penyakit yang melibatkan sistem saraf. Bedah saraf tidak hanya dilakukan pada otak, namun juga pada saraf tulang belakang dan serabut saraf tepi yang menyebar ke seluruh bagian tubuh, seperti pada wajah, tangan, dan kaki.

Pada tindakan bedah saraf terdapat berbagai jenis teknik diagnosis atau teknik pengobatan, yang dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  • Bedah saraf tumor. Ini merupakan prosedur bedah yang bertujuan untuk mendiagnosis dan mengobati tumor yang terdapat pada sistem saraf.
  • Bedah saraf vaskular. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mendiagnosis dan mengobati penyakit saraf akibat kelainan pembuluh darah pada otak.
  • Bedah saraf fungsional. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mendiagnosis dan mengobati penyakit saraf akibat kelainan fungsi sistem saraf.
  • Bedah saraf traumatik. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mengobati penyakit saraf pada otak dan tulang belakang akibat cedera.
  • Bedah saraf pediatrik. Ini merupakan prosedur bedah saraf untuk menangani penyakit saraf pada bayi dan anak-anak.
  • Bedah saraf spinalis. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang menangani penyakit yang terjadi pada tulang belakang.

Teknik dan metode bedah saraf yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit saraf tersebut sangat beragam. Terlepas dari jenis penyakit yang diderita, beberapa metode bedah saraf yang cukup sering dilakukan, di antaranya adalah:

  • Bedah otak atau kraniotomi. Kraniotomi merupakan prosedur bedah yang dilakukan dengan cara membuka dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak untuk melakukan tindakan medis pada otak. Bagian tulang tengkorak yang diangkat tersebut dinamakan bone flap atau penutup tulang tengkorak. Setelah tulang tengkorak dipotong dan bone flap diangkat, dokter dapat melakukan berbagai prosedur medis, baik untuk keperluan diagnosis atau untuk tindakan medis. Kraniotomi dilakukan dengan obat bius total sehingga pasien tidak sadar selama operasi. Kraniotomi diterapkan untuk berbagai keperluan, seperti mengangkat tumor, membuang abses otak, memperbaiki tulang tengkorak yang patah, dan membuang gumpalan darah.
  • Pemasangan VP shunt. VP shunt merupakan saluran khusus yang dipasang melalui prosedur pembedahan untuk mengurangi penumpukan cairan otak pada penderita hidrosefalus. Alat ini bertujuan untuk mengurangi tekanan pada otak akibat penumpukan cairan serebrospinal.
  • Neuroendoskopi. Ini adalah metode bedah yang memfasilitasi dokter untuk memantau kondisi saraf secara visual dan melakukan operasi tanpa membuka tulang tengkorak. Neuroendoskopi dilakukan menggunakan endoskop yang dimasukkan lewat hidung atau mulut hingga mencapai bagian dalam tengkorak. Neuroendoskopi diterapkan untuk mendiagnosis adanya tumor secara visual dan mengambil sampel jaringan, serta mengangkat tumor.
  • Microsurgery atau bedah mikro. Ini merupakan teknik bedah saraf yang menggunakan mikroskop untuk memperbaiki saraf tepi pada organ tubuh yang mengalami kerusakan. Penggunaan mikroskop pada bedah saraf mikro bertujuan untuk memberikan gambaran visual saraf yang sangat halus dengan lebih teliti untuk membantu perbaikan saraf. Selain untuk memperbaiki saraf tepi, bedah saraf mikro juga dapat dilakukan untuk memperbaiki kelainan pembuluh darah arteri dan vena pada otak (AVM) dan tumor pada saraf tulang belakang.
  • Stereotactic radiosurgery (SRS). Ini merupakan metode bedah saraf yang agak berbeda dari metode lainnya, karena menggunakan radiasi yang difokuskan pada jaringan tumor saraf. SRS semakin sering digunakan karena risikonya yang rendah dan dilakukan tanpa sayatan kulit.
  • Awake brain surgery (AWS). Ini merupakan prosedur bedah saraf kraniotomi yang dilakukan pada saat pasien sadar. Berbeda dengan kraniotomi konvensional yang menggunakan obat bius total, pasien yang menjalani AWS hanya diberikan obat bius lokal dan obat penenang. AWS biasanya dilakukan untuk mengobati tumor otak atau kejang epilepsi, terutama jika bagian otak yang menyebabkan kejang terletak dekat pusat penglihatan, pergerakan anggota badan, dan pusat berbicara. Kondisi tersebut menyebabkan pasien harus tetap sadar selama prosedur bedah dilakukan, agar dapat memberikan respons kepada dokter untuk memastikan bedah saraf dilakukan pada lokasi yang tepat.

Indikasi Bedah Saraf

Contoh kondisi atau penyakit yang dapat diatasi dengan tindakan bedah saraf, misalnya:

  • Bedah saraf tumor untuk menangani penyakit yang disebabkan tumor atau kanker pada organ saraf, seperti glioma, meningioma, neuroma akustik, tumor pineal, tumor hipofisis, dan tumor di dasar tulang tengkorak.
  • Bedah saraf vaskular untuk menangani stroke, aneurisma otak, dan
  • Bedah saraf fungsional untuk menangani nyeri tulang belakang, trigeminal neuralgia, penyakit carpal tunnel syndrome, epilepsi, dan kedutan wajah (hemifacial spasm).
  • Bedah saraf traumatik untuk menangani perdarahan otak, hematoma subdural, hematoma epidural, dan patah tulang belakang.
  • Bedah saraf pediatrik dapat menangani penyakit saraf pada bayi dan anak-anak, seperti hidrosefalus, tumor otak pada anak, spina bifida, cranial dysraphism, dan kraniosinostosis.
  • Bedah saraf spinal dapat menangani tumor saraf tulang belakang, spondilitis tuberkulosis, dan kelainan bentuk tulang belakang (misalnya skoliosis, lordosis, atau kifosis).

Peringatan dan Komplikasi Bedah Saraf

Bedah saraf berisiko menimbulkan komplikasi yang dapat terjadi pada saat operasi maupun setelah operasi.

Komplikasi yang dapat muncul pada pasien yang menjalani prosedur neuroendoskopi, antara lain adalah:

  • Perdarahan.
  • Infeksi.
  • Timbulnya saluran abnormal (fistula) pada otak.
  • Kelainan Saraf.
  • Matinya jaringan
  • Epilepsi.
  • Gangguan pengaturan hormon akibat rusaknya hipotalamus.
  • Aneurisma otak.
  • Bradikardia.
  • Hipertensi.

Bagi pasien yang menjalan bedah saraf yang dikombinasikan dengan radioterapi, seperti stereotactic radiosurgery (SRS), dapat mengalami komplikasi berupa:

  • Merasa lemas dan lelah, terutama beberapa hari setelah menjalani SRS.
  • Kulit kepala menjadi kemerahan.
  • Rambut rontok.
  • Pembengkakan di lokasi pengobatan tumor.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Peradangan otak.

Pasien yang menjalani kraniotomi dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Terbentuknya gumpalan darah.
  • Kejang.
  • Pembengkakan pada otak.
  • Otot melemah.
  • Kelumpuhan.
  • Gangguan gerakan dan keseimbangan tubuh.

Pasien yang menjalani awake brain surgery dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Kehilangan ingatan.
  • Gangguan koordinasi anggota badan.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Stroke.
  • Meningitis.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kejang.
  • Kesulitan berbicara dan belajar.
  • Otot terasa lemah.

Pasien yang menjalani pemasangan VP shunt dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Penyumbatan saluran buatan (shunt).
  • Keringnya carian otak karena terbuang terlalu banyak melalui shunt.
  • Infeksi.
  • Kesalahan posisi shunt.
  • Putusnya shunt dari lokasi pemasangan.
  • Perdarahan.
  • Kejang.

Persiapan Bedah Saraf

Pada dasarnya, tiap teknik bedah saraf memiliki persiapan yang berbeda-beda tergantung jenis tindakan yang dilakukan. Namun, secara umum dokter akan memeriksa kondisi kesehatan pasien, penyakit lain yang diderita (terutama penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung koroner), serta alergi yang dimiliki. Pasien juga diharuskan untuk puasa sebelum menjalani prosedur bedah saraf, setidaknya 6 jam sebelum pelaksanaan bedah saraf. Puasa yang dilakukan pasien bertujuan untuk mencegah masuknya isi lambung ke saluran pernapasan. Pasien bedah saraf yang mengalami peningkatan tekanan dalam otak dan muntah-muntah kemungkinan akan mengalami dehidrasi selama operasi. Oleh karena itu, pasien dengan kondisi tersebut harus diberikan asupan cairan melalui infus sebelum pelaksanaan operasi.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan sebelum bedah saraf dilakukan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode pencitraan melalui CT scan dan MRI. Pencitraan dapat memberikan informasi mengenai kondisi bagian dalam otak dan organ saraf lainnya secara visual terkait adanya jaringan abnormal, pengapuran, perdarahan, abses, kista, atau tumor.

Aspek persiapan penting lainnya adalah pemilihan obat bius (anestesi) untuk digunakan selama operasi. Anestesi yang tepat dapat membantu dokter melaksanakan bedah saraf secara maksimal, meminimalkan komplikasi yang dapat muncul, serta menjaga kondisi pasien tetap stabil selama operasi. Anestesi yang diberikan dapat berupa anestesi umum (bius total), regional, atau lokal. Selain berfungsi untuk menahan rasa sakit selama operasi, anestesi juga dapat merelaksasi otot pasien serta menekan refleks saraf selama operasi.

Pasien harus memberitahukan kepada dokter jika memiliki alergi terhadap anestesi, obat-obatan tertentu, dan zat lainnya (misalnya lateks). Jika pasien sedang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki gangguan pembekuan darah, beritahukan kepada dokter untuk menghindari komplikasi. Pasien yang memiliki kebiasaan merokok akan diminta untuk berhenti merokok beberapa hari sebelum pelaksanaan operasi. Pasien yang akan menjalani kraniotomi atau AWS akan diminta untuk keramas menggunakan sampo antiseptik, dan rambut kepala akan dicukur. Hindari menggunakan kosmetik dan perhiasan sebelum menjalani operasi bedah saraf, terutama pada kepala. Pasien harus melepas gigi palsu, lensa kontak, kaca mata, rambut palsu (wig), dan kuku palsu sebelum menjalani bedah saraf.

Prosedur Pelaksanaan Bedah Saraf

Pasien yang sudah siap menjalani prosedur bedah saraf akan dibawa ke ruang operasi dan diminta untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus operasi. Pasien kemudian diposisikan sesuai dengan teknik bedah saraf yang akan dijalani, baik itu duduk ataupun terlentang. Dokter akan memosisikan pasien dengan baik dan senyaman mungkin agar tidak timbul komplikasi akibat posisi pasien yang salah selama operasi berjalan.

Setelah itu dokter akan memberikan obat bius kepada pasien. Pasien yang sudah diberikan obat bius total akan dipasang selang bantuan pernapasan yang disambungkan ke mesin pernapasan. Selama operasi, pasien akan dipantau kondisinya melalui pemantauan tekanan darah, denyut jantung, dan suhu tubuh.

Kebanyakan metode bedah saraf memerlukan pembuatan irisan kulit atau insisi, kecuali prosedur stereotactic radiosurgery (SRS). Insisi akan dibuat di daerah yang akan dibedah. Contohnya pada kraniotomi dan AWS, insisi akan dibuat di daerah kepala dan diikuti dengan pembukaan tulang tengkorak. Daerah tulang tengkorak yang dibuka disesuaikan dengan keperluan tindakan medis yang sudah dievaluasi sebelum operasi.

Jika pasien akan menjalani bedah mikro saraf tepi, insisi akan dibuat di daerah anggota badan yang mengalami gangguan saraf tepi. Jika pasien menderita kelainan saraf sensorik atau motorik di tangan, maka insisi akan dibuat di tangan, begitu pula jika kelainan saraf terjadi di kaki. Akan tetapi, kondisi pasien juga memengaruhi kapan bedah mikro saraf tepi dapat dilakukan. Jika kondisi kesehatan pasien cukup baik, bedah mikro saraf tepi dapat dilakukan dengan segera. Sebaliknya, jika kondisi kesehatan pasien cukup buruk atau terdapat luka dan cedera parah pada anggota badan yang akan menjalani bedah mikro, pasien akan ditunggu higga kondisinya pulih terlebih dahulu.

Pasien yang menjalani neuroendoskopi akan dibuatkan insisi di bagian dalam hidung diikuti dengan pemotongan sebagian kecil tulang sekitar hidung. Insisi ini dibuat dengan tujuan untuk memasukkan alat endoskop dari dalam hidung menuju otak.

Pasien yang menjalani pemasangan VP shunt untuk mengatasi hidrosefalus dan peningkatan tekanan dalam otak akan dibuatkan insisi di bagian belakang telinga. Kateter akan dipasang dari kepala lalu disambungkan ke rongga perut. Kateter akan membantu menurunkan penumpukan cairan otak dengan mengalirkan cairan tersebut dari kepala menuju ke rongga perut.

Prosedur bedah saraf kemudian akan dilakukan setelah insisi selesai dibuat. Jika pasien menderita tumor pada otak atau saraf tulang belakang, tumor akan diangkat. Pasien yang menjalani bedah mikro saraf tepi akan menjalani perbaikan saraf motorik atau sensorik di anggota badan yang mengalami cedera saraf. Pasien yang menjalani kraniotomi dan AWS akan menjalani berbagai tindakan medis pada bagian otak. Pasien yang menjalani neuroendoskopi akan menjalani pengangkatan tumor dan tindakan medis lain pada bagian dalam otak.

Khusus pasien yang menjalani tindakan bedah saraf stereotactic radiosurgery atau SRS, insisi tidak akan dibuat sama sekali. Pasien akan diposisikan telentang di mesin SRS, kemudian dimasukkan ke dalam ruang mesin. Di dalam mesin terdapat alat khusus yang akan dipasangkan ke kepala dan akan memancarkan radiasi ke dalam otak. Radiasi ini berupa sinar gamma yang akan difokuskan pada tumor di dalam otak, dan memotong serta menghancurkan tumor tersebut tanpa merusak jaringan otak lainnya. Selama prosedur SRS, pasien akan tetap sadar namun diberikan obat penenang selama prosedur berlangsung.

Pasien yang menjalani AWS akan diberikan berbagai pertanyaan oleh dokter untuk memastikan bedah saraf dilakukan pada daerah yang tepat dan tidak merusak daerah otak lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan tergolong sederhana, yaitu seputar kata dan gambar. Pasien juga akan diminta untuk menggerakkan anggota tubuh atau menggerakkan jari selama prosedur AWS. Jika seluruh prosedur bedah sudah selesai dilakukan, insisi yang dibuat akan ditutup kembali.

Setelah Bedah Saraf

Pasien yang sudah menjalani prosedur bedah saraf akan segera dirawat untuk menjalani pemulihan pasca operasi. Masa pemulihan pasien yang sudah menjalani bedah saraf sangatlah penting, terutama untuk menghindari komplikasi dan kematian pasien. Pada beberapa kasus, buruknya hasil bedah saraf justru diakibatkan masa pemulihan pasca operasi yang tidak dijalankan dengan baik.

Tindakan bedah saraf umumnya merupakan operasi besar, sehingga pasien akan menjalani pemulihan di rumah sakit terlebih dahulu sebelum diperbolehkan untuk pulang. Pasien dapat menjalani pemulihan di ruang ICU, namun beberapa pasien dapat menjalani pemulihan di ruang rawat inap biasa. Lamanya waktu pemulihan yang dijalani oleh pasien berbeda-beda, tergantung prosedur bedah saraf yang dijalani dan anestesi yang diberikan.

Pasien yang menjalani prosedur bedah otak, seperti kraniotomi atau AWS, akan diposisikan dengan kepala lebih tinggi dibanding anggota badan yang lain setelah operasi. Tujuannya adalah untuk mencegah penumpukan cairan dan aliran darah di bagian kepala, dan menghindari pembengkakan pada kepala dan wajah. Untuk mencegah pembengkakan otak, dokter dapat memberikan obat, seperti propofol atau phenobarbital. Selama masa pemulihan, pasien juga akan dipantau tekanan dalam otak secara intensif untuk menghindari adanya efek samping yang tidak diinginkan.

Pasien kraniotomi dan AWS akan dirawat secara intensif dengan dilakukan pemantauan terhadap:

  • Tekanan darah.
  • Kadar oksigen dalam darah.
  • Denyut jantung.
  • Laju pernapasan.
  • Suhu tubuh.
  • EEG.
  • Kadar elektrolit dan cairan tubuh.

Pasien yang menjalani pemulihan dari kraniotomi akan dicek fungsi otaknya setelah menjalani operasi. Dokter akan memeriksa:

  • Gerakan mata dan pupil, melalui penyinaran senter ke mata.
  • Gerakan tangan dan kaki.
  • Kekuatan tangan dan kaki.
  • Orientasi pasien, dengan menanyakan beberapa pertanyaan sederhana, seperti nama, tanggal, dan tempat pasien berada.

Selama masa awal pemulihan pasca operasi, pasien kraniotomi tetap akan dipasangkan alat bantuan pernapasan. Untuk memfasilitasi buang air kecil, pasien akan dipasangi kateter pada saluran kencingnya. Pasien juga akan dilatih untuk bernapas setelah alat bantu pernapasan dilepas. Latihan pernapasan ini berfungsi untuk membantu pasien menggunakan paru-parunya kembali, serta mencegah pneumonia.

Selain pasien kraniotomi, pasien yang menjalani bedah saraf tulang belakang, terutama bedah saraf leher (servikal), akan dipasangi alat bantu pernapasan dalam awal pemulihan pasca operasi.

Pasien yang menjalani prosedur SRS dapat mengalami efek samping, seperti sakit kepala, mual, dan muntah-muntah. Dokter akan memberikan obat untuk meringankan efek samping tersebut selama masa pemulihan. Pasien yang menjalani neuroendoskopi juga dapat merasakan efek samping yang sama, disertai dengan penyumbatan pada hidung. Dokter akan memberikan obat-obatan untuk meredakan efek samping selama pasien menjalani masa pemulihan. Dokter juga akan memantau kadar hormon untuk mengetahui kinerja kelenjar hipofisis pada otak. Jika dari pemantauan diketahui bahwa kelenjar hipofisis tidak bekerja menghasilkan hormon dengan baik, maka pasien akan menjalani terapi penggantian hormon.

Antibiotik akan diberikan kepada pasien yang menjalani bedah saraf, baik sebelum maupun sesudah operasi. Pemberian antibiotik bertujuan untuk:

  • Mencegah pneumonia.
  • Mencegah munculnya kembali abses otak, setelah dilakukan bedah saraf untuk menangani abses.
  • Mencegah meningitis, terutama meningitis yang diakibatkan oleh bocornya cairan otak.
  • Mencegah infeksi pada pasien hidrosefalus yang menjalani pemasangan VP shunt.

Selain diberikan antibiotik, pasien juga dapat diberikan obat pengencer darah untuk mencegah terjadinya gumpalan darah, kecuali jika pasien memiliki gangguan pembekuan darah. Untuk mencegah kejang pada pasien bedah saraf otak, dokter dapat memberikan obat antikonvulsan sebagai upaya pencegahan kejang.

Setelah selesai menjalani pemulihan di rumah sakit, pasien biasanya dibolehkan untuk pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan. Lamanya waktu perawatan di rumah sakit bergantung kepada seberapa parah tingkat keparahan penyakit saraf yang diderita dan jenis prosedur bedah saraf yang dijalani.

Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi

" />

Bedah Saraf, Ini yang Harus Anda Ketahui

Oleh : Sulastri Habeahan on pada 17 Jul 2017, 21:00 WIB

Alodokter  |  Informasi Kesehatan Terlengkap dan Terpercaya

Bedah Saraf, Ini yang Harus Anda Ketahui

Bedah saraf adalah suatu prosedur medis yang bertujuan untuk melakukan diagnosis atau mengobati penyakit yang melibatkan sistem saraf. Bedah saraf tidak hanya dilakukan pada otak, namun juga pada saraf tulang belakang dan serabut saraf tepi yang menyebar ke seluruh bagian tubuh, seperti pada wajah, tangan, dan kaki.

Pada tindakan bedah saraf terdapat berbagai jenis teknik diagnosis atau teknik pengobatan, yang dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  • Bedah saraf tumor. Ini merupakan prosedur bedah yang bertujuan untuk mendiagnosis dan mengobati tumor yang terdapat pada sistem saraf.
  • Bedah saraf vaskular. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mendiagnosis dan mengobati penyakit saraf akibat kelainan pembuluh darah pada otak.
  • Bedah saraf fungsional. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mendiagnosis dan mengobati penyakit saraf akibat kelainan fungsi sistem saraf.
  • Bedah saraf traumatik. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mengobati penyakit saraf pada otak dan tulang belakang akibat cedera.
  • Bedah saraf pediatrik. Ini merupakan prosedur bedah saraf untuk menangani penyakit saraf pada bayi dan anak-anak.
  • Bedah saraf spinalis. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang menangani penyakit yang terjadi pada tulang belakang.

Teknik dan metode bedah saraf yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit saraf tersebut sangat beragam. Terlepas dari jenis penyakit yang diderita, beberapa metode bedah saraf yang cukup sering dilakukan, di antaranya adalah:

  • Bedah otak atau kraniotomi. Kraniotomi merupakan prosedur bedah yang dilakukan dengan cara membuka dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak untuk melakukan tindakan medis pada otak. Bagian tulang tengkorak yang diangkat tersebut dinamakan bone flap atau penutup tulang tengkorak. Setelah tulang tengkorak dipotong dan bone flap diangkat, dokter dapat melakukan berbagai prosedur medis, baik untuk keperluan diagnosis atau untuk tindakan medis. Kraniotomi dilakukan dengan obat bius total sehingga pasien tidak sadar selama operasi. Kraniotomi diterapkan untuk berbagai keperluan, seperti mengangkat tumor, membuang abses otak, memperbaiki tulang tengkorak yang patah, dan membuang gumpalan darah.
  • Pemasangan VP shunt. VP shunt merupakan saluran khusus yang dipasang melalui prosedur pembedahan untuk mengurangi penumpukan cairan otak pada penderita hidrosefalus. Alat ini bertujuan untuk mengurangi tekanan pada otak akibat penumpukan cairan serebrospinal.
  • Neuroendoskopi. Ini adalah metode bedah yang memfasilitasi dokter untuk memantau kondisi saraf secara visual dan melakukan operasi tanpa membuka tulang tengkorak. Neuroendoskopi dilakukan menggunakan endoskop yang dimasukkan lewat hidung atau mulut hingga mencapai bagian dalam tengkorak. Neuroendoskopi diterapkan untuk mendiagnosis adanya tumor secara visual dan mengambil sampel jaringan, serta mengangkat tumor.
  • Microsurgery atau bedah mikro. Ini merupakan teknik bedah saraf yang menggunakan mikroskop untuk memperbaiki saraf tepi pada organ tubuh yang mengalami kerusakan. Penggunaan mikroskop pada bedah saraf mikro bertujuan untuk memberikan gambaran visual saraf yang sangat halus dengan lebih teliti untuk membantu perbaikan saraf. Selain untuk memperbaiki saraf tepi, bedah saraf mikro juga dapat dilakukan untuk memperbaiki kelainan pembuluh darah arteri dan vena pada otak (AVM) dan tumor pada saraf tulang belakang.
  • Stereotactic radiosurgery (SRS). Ini merupakan metode bedah saraf yang agak berbeda dari metode lainnya, karena menggunakan radiasi yang difokuskan pada jaringan tumor saraf. SRS semakin sering digunakan karena risikonya yang rendah dan dilakukan tanpa sayatan kulit.
  • Awake brain surgery (AWS). Ini merupakan prosedur bedah saraf kraniotomi yang dilakukan pada saat pasien sadar. Berbeda dengan kraniotomi konvensional yang menggunakan obat bius total, pasien yang menjalani AWS hanya diberikan obat bius lokal dan obat penenang. AWS biasanya dilakukan untuk mengobati tumor otak atau kejang epilepsi, terutama jika bagian otak yang menyebabkan kejang terletak dekat pusat penglihatan, pergerakan anggota badan, dan pusat berbicara. Kondisi tersebut menyebabkan pasien harus tetap sadar selama prosedur bedah dilakukan, agar dapat memberikan respons kepada dokter untuk memastikan bedah saraf dilakukan pada lokasi yang tepat.

Indikasi Bedah Saraf

Contoh kondisi atau penyakit yang dapat diatasi dengan tindakan bedah saraf, misalnya:

  • Bedah saraf tumor untuk menangani penyakit yang disebabkan tumor atau kanker pada organ saraf, seperti glioma, meningioma, neuroma akustik, tumor pineal, tumor hipofisis, dan tumor di dasar tulang tengkorak.
  • Bedah saraf vaskular untuk menangani stroke, aneurisma otak, dan
  • Bedah saraf fungsional untuk menangani nyeri tulang belakang, trigeminal neuralgia, penyakit carpal tunnel syndrome, epilepsi, dan kedutan wajah (hemifacial spasm).
  • Bedah saraf traumatik untuk menangani perdarahan otak, hematoma subdural, hematoma epidural, dan patah tulang belakang.
  • Bedah saraf pediatrik dapat menangani penyakit saraf pada bayi dan anak-anak, seperti hidrosefalus, tumor otak pada anak, spina bifida, cranial dysraphism, dan kraniosinostosis.
  • Bedah saraf spinal dapat menangani tumor saraf tulang belakang, spondilitis tuberkulosis, dan kelainan bentuk tulang belakang (misalnya skoliosis, lordosis, atau kifosis).

Peringatan dan Komplikasi Bedah Saraf

Bedah saraf berisiko menimbulkan komplikasi yang dapat terjadi pada saat operasi maupun setelah operasi.

Komplikasi yang dapat muncul pada pasien yang menjalani prosedur neuroendoskopi, antara lain adalah:

  • Perdarahan.
  • Infeksi.
  • Timbulnya saluran abnormal (fistula) pada otak.
  • Kelainan Saraf.
  • Matinya jaringan
  • Epilepsi.
  • Gangguan pengaturan hormon akibat rusaknya hipotalamus.
  • Aneurisma otak.
  • Bradikardia.
  • Hipertensi.

Bagi pasien yang menjalan bedah saraf yang dikombinasikan dengan radioterapi, seperti stereotactic radiosurgery (SRS), dapat mengalami komplikasi berupa:

  • Merasa lemas dan lelah, terutama beberapa hari setelah menjalani SRS.
  • Kulit kepala menjadi kemerahan.
  • Rambut rontok.
  • Pembengkakan di lokasi pengobatan tumor.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Peradangan otak.

Pasien yang menjalani kraniotomi dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Terbentuknya gumpalan darah.
  • Kejang.
  • Pembengkakan pada otak.
  • Otot melemah.
  • Kelumpuhan.
  • Gangguan gerakan dan keseimbangan tubuh.

Pasien yang menjalani awake brain surgery dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Kehilangan ingatan.
  • Gangguan koordinasi anggota badan.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Stroke.
  • Meningitis.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kejang.
  • Kesulitan berbicara dan belajar.
  • Otot terasa lemah.

Pasien yang menjalani pemasangan VP shunt dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Penyumbatan saluran buatan (shunt).
  • Keringnya carian otak karena terbuang terlalu banyak melalui shunt.
  • Infeksi.
  • Kesalahan posisi shunt.
  • Putusnya shunt dari lokasi pemasangan.
  • Perdarahan.
  • Kejang.

Persiapan Bedah Saraf

Pada dasarnya, tiap teknik bedah saraf memiliki persiapan yang berbeda-beda tergantung jenis tindakan yang dilakukan. Namun, secara umum dokter akan memeriksa kondisi kesehatan pasien, penyakit lain yang diderita (terutama penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung koroner), serta alergi yang dimiliki. Pasien juga diharuskan untuk puasa sebelum menjalani prosedur bedah saraf, setidaknya 6 jam sebelum pelaksanaan bedah saraf. Puasa yang dilakukan pasien bertujuan untuk mencegah masuknya isi lambung ke saluran pernapasan. Pasien bedah saraf yang mengalami peningkatan tekanan dalam otak dan muntah-muntah kemungkinan akan mengalami dehidrasi selama operasi. Oleh karena itu, pasien dengan kondisi tersebut harus diberikan asupan cairan melalui infus sebelum pelaksanaan operasi.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan sebelum bedah saraf dilakukan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode pencitraan melalui CT scan dan MRI. Pencitraan dapat memberikan informasi mengenai kondisi bagian dalam otak dan organ saraf lainnya secara visual terkait adanya jaringan abnormal, pengapuran, perdarahan, abses, kista, atau tumor.

Aspek persiapan penting lainnya adalah pemilihan obat bius (anestesi) untuk digunakan selama operasi. Anestesi yang tepat dapat membantu dokter melaksanakan bedah saraf secara maksimal, meminimalkan komplikasi yang dapat muncul, serta menjaga kondisi pasien tetap stabil selama operasi. Anestesi yang diberikan dapat berupa anestesi umum (bius total), regional, atau lokal. Selain berfungsi untuk menahan rasa sakit selama operasi, anestesi juga dapat merelaksasi otot pasien serta menekan refleks saraf selama operasi.

Pasien harus memberitahukan kepada dokter jika memiliki alergi terhadap anestesi, obat-obatan tertentu, dan zat lainnya (misalnya lateks). Jika pasien sedang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki gangguan pembekuan darah, beritahukan kepada dokter untuk menghindari komplikasi. Pasien yang memiliki kebiasaan merokok akan diminta untuk berhenti merokok beberapa hari sebelum pelaksanaan operasi. Pasien yang akan menjalani kraniotomi atau AWS akan diminta untuk keramas menggunakan sampo antiseptik, dan rambut kepala akan dicukur. Hindari menggunakan kosmetik dan perhiasan sebelum menjalani operasi bedah saraf, terutama pada kepala. Pasien harus melepas gigi palsu, lensa kontak, kaca mata, rambut palsu (wig), dan kuku palsu sebelum menjalani bedah saraf.

Prosedur Pelaksanaan Bedah Saraf

Pasien yang sudah siap menjalani prosedur bedah saraf akan dibawa ke ruang operasi dan diminta untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus operasi. Pasien kemudian diposisikan sesuai dengan teknik bedah saraf yang akan dijalani, baik itu duduk ataupun terlentang. Dokter akan memosisikan pasien dengan baik dan senyaman mungkin agar tidak timbul komplikasi akibat posisi pasien yang salah selama operasi berjalan.

Setelah itu dokter akan memberikan obat bius kepada pasien. Pasien yang sudah diberikan obat bius total akan dipasang selang bantuan pernapasan yang disambungkan ke mesin pernapasan. Selama operasi, pasien akan dipantau kondisinya melalui pemantauan tekanan darah, denyut jantung, dan suhu tubuh.

Kebanyakan metode bedah saraf memerlukan pembuatan irisan kulit atau insisi, kecuali prosedur stereotactic radiosurgery (SRS). Insisi akan dibuat di daerah yang akan dibedah. Contohnya pada kraniotomi dan AWS, insisi akan dibuat di daerah kepala dan diikuti dengan pembukaan tulang tengkorak. Daerah tulang tengkorak yang dibuka disesuaikan dengan keperluan tindakan medis yang sudah dievaluasi sebelum operasi.

Jika pasien akan menjalani bedah mikro saraf tepi, insisi akan dibuat di daerah anggota badan yang mengalami gangguan saraf tepi. Jika pasien menderita kelainan saraf sensorik atau motorik di tangan, maka insisi akan dibuat di tangan, begitu pula jika kelainan saraf terjadi di kaki. Akan tetapi, kondisi pasien juga memengaruhi kapan bedah mikro saraf tepi dapat dilakukan. Jika kondisi kesehatan pasien cukup baik, bedah mikro saraf tepi dapat dilakukan dengan segera. Sebaliknya, jika kondisi kesehatan pasien cukup buruk atau terdapat luka dan cedera parah pada anggota badan yang akan menjalani bedah mikro, pasien akan ditunggu higga kondisinya pulih terlebih dahulu.

Pasien yang menjalani neuroendoskopi akan dibuatkan insisi di bagian dalam hidung diikuti dengan pemotongan sebagian kecil tulang sekitar hidung. Insisi ini dibuat dengan tujuan untuk memasukkan alat endoskop dari dalam hidung menuju otak.

Pasien yang menjalani pemasangan VP shunt untuk mengatasi hidrosefalus dan peningkatan tekanan dalam otak akan dibuatkan insisi di bagian belakang telinga. Kateter akan dipasang dari kepala lalu disambungkan ke rongga perut. Kateter akan membantu menurunkan penumpukan cairan otak dengan mengalirkan cairan tersebut dari kepala menuju ke rongga perut.

Prosedur bedah saraf kemudian akan dilakukan setelah insisi selesai dibuat. Jika pasien menderita tumor pada otak atau saraf tulang belakang, tumor akan diangkat. Pasien yang menjalani bedah mikro saraf tepi akan menjalani perbaikan saraf motorik atau sensorik di anggota badan yang mengalami cedera saraf. Pasien yang menjalani kraniotomi dan AWS akan menjalani berbagai tindakan medis pada bagian otak. Pasien yang menjalani neuroendoskopi akan menjalani pengangkatan tumor dan tindakan medis lain pada bagian dalam otak.

Khusus pasien yang menjalani tindakan bedah saraf stereotactic radiosurgery atau SRS, insisi tidak akan dibuat sama sekali. Pasien akan diposisikan telentang di mesin SRS, kemudian dimasukkan ke dalam ruang mesin. Di dalam mesin terdapat alat khusus yang akan dipasangkan ke kepala dan akan memancarkan radiasi ke dalam otak. Radiasi ini berupa sinar gamma yang akan difokuskan pada tumor di dalam otak, dan memotong serta menghancurkan tumor tersebut tanpa merusak jaringan otak lainnya. Selama prosedur SRS, pasien akan tetap sadar namun diberikan obat penenang selama prosedur berlangsung.

Pasien yang menjalani AWS akan diberikan berbagai pertanyaan oleh dokter untuk memastikan bedah saraf dilakukan pada daerah yang tepat dan tidak merusak daerah otak lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan tergolong sederhana, yaitu seputar kata dan gambar. Pasien juga akan diminta untuk menggerakkan anggota tubuh atau menggerakkan jari selama prosedur AWS. Jika seluruh prosedur bedah sudah selesai dilakukan, insisi yang dibuat akan ditutup kembali.

Setelah Bedah Saraf

Pasien yang sudah menjalani prosedur bedah saraf akan segera dirawat untuk menjalani pemulihan pasca operasi. Masa pemulihan pasien yang sudah menjalani bedah saraf sangatlah penting, terutama untuk menghindari komplikasi dan kematian pasien. Pada beberapa kasus, buruknya hasil bedah saraf justru diakibatkan masa pemulihan pasca operasi yang tidak dijalankan dengan baik.

Tindakan bedah saraf umumnya merupakan operasi besar, sehingga pasien akan menjalani pemulihan di rumah sakit terlebih dahulu sebelum diperbolehkan untuk pulang. Pasien dapat menjalani pemulihan di ruang ICU, namun beberapa pasien dapat menjalani pemulihan di ruang rawat inap biasa. Lamanya waktu pemulihan yang dijalani oleh pasien berbeda-beda, tergantung prosedur bedah saraf yang dijalani dan anestesi yang diberikan.

Pasien yang menjalani prosedur bedah otak, seperti kraniotomi atau AWS, akan diposisikan dengan kepala lebih tinggi dibanding anggota badan yang lain setelah operasi. Tujuannya adalah untuk mencegah penumpukan cairan dan aliran darah di bagian kepala, dan menghindari pembengkakan pada kepala dan wajah. Untuk mencegah pembengkakan otak, dokter dapat memberikan obat, seperti propofol atau phenobarbital. Selama masa pemulihan, pasien juga akan dipantau tekanan dalam otak secara intensif untuk menghindari adanya efek samping yang tidak diinginkan.

Pasien kraniotomi dan AWS akan dirawat secara intensif dengan dilakukan pemantauan terhadap:

  • Tekanan darah.
  • Kadar oksigen dalam darah.
  • Denyut jantung.
  • Laju pernapasan.
  • Suhu tubuh.
  • EEG.
  • Kadar elektrolit dan cairan tubuh.

Pasien yang menjalani pemulihan dari kraniotomi akan dicek fungsi otaknya setelah menjalani operasi. Dokter akan memeriksa:

  • Gerakan mata dan pupil, melalui penyinaran senter ke mata.
  • Gerakan tangan dan kaki.
  • Kekuatan tangan dan kaki.
  • Orientasi pasien, dengan menanyakan beberapa pertanyaan sederhana, seperti nama, tanggal, dan tempat pasien berada.

Selama masa awal pemulihan pasca operasi, pasien kraniotomi tetap akan dipasangkan alat bantuan pernapasan. Untuk memfasilitasi buang air kecil, pasien akan dipasangi kateter pada saluran kencingnya. Pasien juga akan dilatih untuk bernapas setelah alat bantu pernapasan dilepas. Latihan pernapasan ini berfungsi untuk membantu pasien menggunakan paru-parunya kembali, serta mencegah pneumonia.

Selain pasien kraniotomi, pasien yang menjalani bedah saraf tulang belakang, terutama bedah saraf leher (servikal), akan dipasangi alat bantu pernapasan dalam awal pemulihan pasca operasi.

Pasien yang menjalani prosedur SRS dapat mengalami efek samping, seperti sakit kepala, mual, dan muntah-muntah. Dokter akan memberikan obat untuk meringankan efek samping tersebut selama masa pemulihan. Pasien yang menjalani neuroendoskopi juga dapat merasakan efek samping yang sama, disertai dengan penyumbatan pada hidung. Dokter akan memberikan obat-obatan untuk meredakan efek samping selama pasien menjalani masa pemulihan. Dokter juga akan memantau kadar hormon untuk mengetahui kinerja kelenjar hipofisis pada otak. Jika dari pemantauan diketahui bahwa kelenjar hipofisis tidak bekerja menghasilkan hormon dengan baik, maka pasien akan menjalani terapi penggantian hormon.

Antibiotik akan diberikan kepada pasien yang menjalani bedah saraf, baik sebelum maupun sesudah operasi. Pemberian antibiotik bertujuan untuk:

  • Mencegah pneumonia.
  • Mencegah munculnya kembali abses otak, setelah dilakukan bedah saraf untuk menangani abses.
  • Mencegah meningitis, terutama meningitis yang diakibatkan oleh bocornya cairan otak.
  • Mencegah infeksi pada pasien hidrosefalus yang menjalani pemasangan VP shunt.

Selain diberikan antibiotik, pasien juga dapat diberikan obat pengencer darah untuk mencegah terjadinya gumpalan darah, kecuali jika pasien memiliki gangguan pembekuan darah. Untuk mencegah kejang pada pasien bedah saraf otak, dokter dapat memberikan obat antikonvulsan sebagai upaya pencegahan kejang.

Setelah selesai menjalani pemulihan di rumah sakit, pasien biasanya dibolehkan untuk pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan. Lamanya waktu perawatan di rumah sakit bergantung kepada seberapa parah tingkat keparahan penyakit saraf yang diderita dan jenis prosedur bedah saraf yang dijalani.

Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi

" alt="" width="100%" height="250">

Bedah saraf adalah suatu prosedur medis yang bertujuan untuk melakukan diagnosis atau mengobati penyakit yang melibatkan sistem saraf. Bedah saraf tidak hanya dilakukan pada otak, namun juga pada saraf tulang belakang dan serabut saraf tepi yang menyebar ke seluruh bagian tubuh, seperti pada wajah, tangan, dan kaki.

Pada tindakan bedah saraf terdapat berbagai jenis teknik diagnosis atau teknik pengobatan, yang dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  • Bedah saraf tumor. Ini merupakan prosedur bedah yang bertujuan untuk mendiagnosis dan mengobati tumor yang terdapat pada sistem saraf.
  • Bedah saraf vaskular. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mendiagnosis dan mengobati penyakit saraf akibat kelainan pembuluh darah pada otak.
  • Bedah saraf fungsional. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mendiagnosis dan mengobati penyakit saraf akibat kelainan fungsi sistem saraf.
  • Bedah saraf traumatik. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang dapat mengobati penyakit saraf pada otak dan tulang belakang akibat cedera.
  • Bedah saraf pediatrik. Ini merupakan prosedur bedah saraf untuk menangani penyakit saraf pada bayi dan anak-anak.
  • Bedah saraf spinalis. Ini merupakan prosedur bedah saraf yang menangani penyakit yang terjadi pada tulang belakang.

Teknik dan metode bedah saraf yang dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit saraf tersebut sangat beragam. Terlepas dari jenis penyakit yang diderita, beberapa metode bedah saraf yang cukup sering dilakukan, di antaranya adalah:

  • Bedah otak atau kraniotomi. Kraniotomi merupakan prosedur bedah yang dilakukan dengan cara membuka dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak untuk melakukan tindakan medis pada otak. Bagian tulang tengkorak yang diangkat tersebut dinamakan bone flap atau penutup tulang tengkorak. Setelah tulang tengkorak dipotong dan bone flap diangkat, dokter dapat melakukan berbagai prosedur medis, baik untuk keperluan diagnosis atau untuk tindakan medis. Kraniotomi dilakukan dengan obat bius total sehingga pasien tidak sadar selama operasi. Kraniotomi diterapkan untuk berbagai keperluan, seperti mengangkat tumor, membuang abses otak, memperbaiki tulang tengkorak yang patah, dan membuang gumpalan darah.
  • Pemasangan VP shunt. VP shunt merupakan saluran khusus yang dipasang melalui prosedur pembedahan untuk mengurangi penumpukan cairan otak pada penderita hidrosefalus. Alat ini bertujuan untuk mengurangi tekanan pada otak akibat penumpukan cairan serebrospinal.
  • Neuroendoskopi. Ini adalah metode bedah yang memfasilitasi dokter untuk memantau kondisi saraf secara visual dan melakukan operasi tanpa membuka tulang tengkorak. Neuroendoskopi dilakukan menggunakan endoskop yang dimasukkan lewat hidung atau mulut hingga mencapai bagian dalam tengkorak. Neuroendoskopi diterapkan untuk mendiagnosis adanya tumor secara visual dan mengambil sampel jaringan, serta mengangkat tumor.
  • Microsurgery atau bedah mikro. Ini merupakan teknik bedah saraf yang menggunakan mikroskop untuk memperbaiki saraf tepi pada organ tubuh yang mengalami kerusakan. Penggunaan mikroskop pada bedah saraf mikro bertujuan untuk memberikan gambaran visual saraf yang sangat halus dengan lebih teliti untuk membantu perbaikan saraf. Selain untuk memperbaiki saraf tepi, bedah saraf mikro juga dapat dilakukan untuk memperbaiki kelainan pembuluh darah arteri dan vena pada otak (AVM) dan tumor pada saraf tulang belakang.
  • Stereotactic radiosurgery (SRS). Ini merupakan metode bedah saraf yang agak berbeda dari metode lainnya, karena menggunakan radiasi yang difokuskan pada jaringan tumor saraf. SRS semakin sering digunakan karena risikonya yang rendah dan dilakukan tanpa sayatan kulit.
  • Awake brain surgery (AWS). Ini merupakan prosedur bedah saraf kraniotomi yang dilakukan pada saat pasien sadar. Berbeda dengan kraniotomi konvensional yang menggunakan obat bius total, pasien yang menjalani AWS hanya diberikan obat bius lokal dan obat penenang. AWS biasanya dilakukan untuk mengobati tumor otak atau kejang epilepsi, terutama jika bagian otak yang menyebabkan kejang terletak dekat pusat penglihatan, pergerakan anggota badan, dan pusat berbicara. Kondisi tersebut menyebabkan pasien harus tetap sadar selama prosedur bedah dilakukan, agar dapat memberikan respons kepada dokter untuk memastikan bedah saraf dilakukan pada lokasi yang tepat.

Indikasi Bedah Saraf

Contoh kondisi atau penyakit yang dapat diatasi dengan tindakan bedah saraf, misalnya:

  • Bedah saraf tumor untuk menangani penyakit yang disebabkan tumor atau kanker pada organ saraf, seperti glioma, meningioma, neuroma akustik, tumor pineal, tumor hipofisis, dan tumor di dasar tulang tengkorak.
  • Bedah saraf vaskular untuk menangani stroke, aneurisma otak, dan
  • Bedah saraf fungsional untuk menangani nyeri tulang belakang, trigeminal neuralgia, penyakit carpal tunnel syndrome, epilepsi, dan kedutan wajah (hemifacial spasm).
  • Bedah saraf traumatik untuk menangani perdarahan otak, hematoma subdural, hematoma epidural, dan patah tulang belakang.
  • Bedah saraf pediatrik dapat menangani penyakit saraf pada bayi dan anak-anak, seperti hidrosefalus, tumor otak pada anak, spina bifida, cranial dysraphism, dan kraniosinostosis.
  • Bedah saraf spinal dapat menangani tumor saraf tulang belakang, spondilitis tuberkulosis, dan kelainan bentuk tulang belakang (misalnya skoliosis, lordosis, atau kifosis).

Peringatan dan Komplikasi Bedah Saraf

Bedah saraf berisiko menimbulkan komplikasi yang dapat terjadi pada saat operasi maupun setelah operasi.

Komplikasi yang dapat muncul pada pasien yang menjalani prosedur neuroendoskopi, antara lain adalah:

  • Perdarahan.
  • Infeksi.
  • Timbulnya saluran abnormal (fistula) pada otak.
  • Kelainan Saraf.
  • Matinya jaringan
  • Epilepsi.
  • Gangguan pengaturan hormon akibat rusaknya hipotalamus.
  • Aneurisma otak.
  • Bradikardia.
  • Hipertensi.

Bagi pasien yang menjalan bedah saraf yang dikombinasikan dengan radioterapi, seperti stereotactic radiosurgery (SRS), dapat mengalami komplikasi berupa:

  • Merasa lemas dan lelah, terutama beberapa hari setelah menjalani SRS.
  • Kulit kepala menjadi kemerahan.
  • Rambut rontok.
  • Pembengkakan di lokasi pengobatan tumor.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Peradangan otak.

Pasien yang menjalani kraniotomi dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Terbentuknya gumpalan darah.
  • Kejang.
  • Pembengkakan pada otak.
  • Otot melemah.
  • Kelumpuhan.
  • Gangguan gerakan dan keseimbangan tubuh.

Pasien yang menjalani awake brain surgery dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Kehilangan ingatan.
  • Gangguan koordinasi anggota badan.
  • Gangguan keseimbangan.
  • Stroke.
  • Meningitis.
  • Gangguan penglihatan.
  • Kejang.
  • Kesulitan berbicara dan belajar.
  • Otot terasa lemah.

Pasien yang menjalani pemasangan VP shunt dapat mengalami komplikasi, seperti:

  • Penyumbatan saluran buatan (shunt).
  • Keringnya carian otak karena terbuang terlalu banyak melalui shunt.
  • Infeksi.
  • Kesalahan posisi shunt.
  • Putusnya shunt dari lokasi pemasangan.
  • Perdarahan.
  • Kejang.

Persiapan Bedah Saraf

Pada dasarnya, tiap teknik bedah saraf memiliki persiapan yang berbeda-beda tergantung jenis tindakan yang dilakukan. Namun, secara umum dokter akan memeriksa kondisi kesehatan pasien, penyakit lain yang diderita (terutama penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung koroner), serta alergi yang dimiliki. Pasien juga diharuskan untuk puasa sebelum menjalani prosedur bedah saraf, setidaknya 6 jam sebelum pelaksanaan bedah saraf. Puasa yang dilakukan pasien bertujuan untuk mencegah masuknya isi lambung ke saluran pernapasan. Pasien bedah saraf yang mengalami peningkatan tekanan dalam otak dan muntah-muntah kemungkinan akan mengalami dehidrasi selama operasi. Oleh karena itu, pasien dengan kondisi tersebut harus diberikan asupan cairan melalui infus sebelum pelaksanaan operasi.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan sebelum bedah saraf dilakukan. Pemeriksaan dilakukan dengan metode pencitraan melalui CT scan dan MRI. Pencitraan dapat memberikan informasi mengenai kondisi bagian dalam otak dan organ saraf lainnya secara visual terkait adanya jaringan abnormal, pengapuran, perdarahan, abses, kista, atau tumor.

Aspek persiapan penting lainnya adalah pemilihan obat bius (anestesi) untuk digunakan selama operasi. Anestesi yang tepat dapat membantu dokter melaksanakan bedah saraf secara maksimal, meminimalkan komplikasi yang dapat muncul, serta menjaga kondisi pasien tetap stabil selama operasi. Anestesi yang diberikan dapat berupa anestesi umum (bius total), regional, atau lokal. Selain berfungsi untuk menahan rasa sakit selama operasi, anestesi juga dapat merelaksasi otot pasien serta menekan refleks saraf selama operasi.

Pasien harus memberitahukan kepada dokter jika memiliki alergi terhadap anestesi, obat-obatan tertentu, dan zat lainnya (misalnya lateks). Jika pasien sedang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki gangguan pembekuan darah, beritahukan kepada dokter untuk menghindari komplikasi. Pasien yang memiliki kebiasaan merokok akan diminta untuk berhenti merokok beberapa hari sebelum pelaksanaan operasi. Pasien yang akan menjalani kraniotomi atau AWS akan diminta untuk keramas menggunakan sampo antiseptik, dan rambut kepala akan dicukur. Hindari menggunakan kosmetik dan perhiasan sebelum menjalani operasi bedah saraf, terutama pada kepala. Pasien harus melepas gigi palsu, lensa kontak, kaca mata, rambut palsu (wig), dan kuku palsu sebelum menjalani bedah saraf.

Prosedur Pelaksanaan Bedah Saraf

Pasien yang sudah siap menjalani prosedur bedah saraf akan dibawa ke ruang operasi dan diminta untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus operasi. Pasien kemudian diposisikan sesuai dengan teknik bedah saraf yang akan dijalani, baik itu duduk ataupun terlentang. Dokter akan memosisikan pasien dengan baik dan senyaman mungkin agar tidak timbul komplikasi akibat posisi pasien yang salah selama operasi berjalan.

Setelah itu dokter akan memberikan obat bius kepada pasien. Pasien yang sudah diberikan obat bius total akan dipasang selang bantuan pernapasan yang disambungkan ke mesin pernapasan. Selama operasi, pasien akan dipantau kondisinya melalui pemantauan tekanan darah, denyut jantung, dan suhu tubuh.

Kebanyakan metode bedah saraf memerlukan pembuatan irisan kulit atau insisi, kecuali prosedur stereotactic radiosurgery (SRS). Insisi akan dibuat di daerah yang akan dibedah. Contohnya pada kraniotomi dan AWS, insisi akan dibuat di daerah kepala dan diikuti dengan pembukaan tulang tengkorak. Daerah tulang tengkorak yang dibuka disesuaikan dengan keperluan tindakan medis yang sudah dievaluasi sebelum operasi.

Jika pasien akan menjalani bedah mikro saraf tepi, insisi akan dibuat di daerah anggota badan yang mengalami gangguan saraf tepi. Jika pasien menderita kelainan saraf sensorik atau motorik di tangan, maka insisi akan dibuat di tangan, begitu pula jika kelainan saraf terjadi di kaki. Akan tetapi, kondisi pasien juga memengaruhi kapan bedah mikro saraf tepi dapat dilakukan. Jika kondisi kesehatan pasien cukup baik, bedah mikro saraf tepi dapat dilakukan dengan segera. Sebaliknya, jika kondisi kesehatan pasien cukup buruk atau terdapat luka dan cedera parah pada anggota badan yang akan menjalani bedah mikro, pasien akan ditunggu higga kondisinya pulih terlebih dahulu.

Pasien yang menjalani neuroendoskopi akan dibuatkan insisi di bagian dalam hidung diikuti dengan pemotongan sebagian kecil tulang sekitar hidung. Insisi ini dibuat dengan tujuan untuk memasukkan alat endoskop dari dalam hidung menuju otak.

Pasien yang menjalani pemasangan VP shunt untuk mengatasi hidrosefalus dan peningkatan tekanan dalam otak akan dibuatkan insisi di bagian belakang telinga. Kateter akan dipasang dari kepala lalu disambungkan ke rongga perut. Kateter akan membantu menurunkan penumpukan cairan otak dengan mengalirkan cairan tersebut dari kepala menuju ke rongga perut.

Prosedur bedah saraf kemudian akan dilakukan setelah insisi selesai dibuat. Jika pasien menderita tumor pada otak atau saraf tulang belakang, tumor akan diangkat. Pasien yang menjalani bedah mikro saraf tepi akan menjalani perbaikan saraf motorik atau sensorik di anggota badan yang mengalami cedera saraf. Pasien yang menjalani kraniotomi dan AWS akan menjalani berbagai tindakan medis pada bagian otak. Pasien yang menjalani neuroendoskopi akan menjalani pengangkatan tumor dan tindakan medis lain pada bagian dalam otak.

Khusus pasien yang menjalani tindakan bedah saraf stereotactic radiosurgery atau SRS, insisi tidak akan dibuat sama sekali. Pasien akan diposisikan telentang di mesin SRS, kemudian dimasukkan ke dalam ruang mesin. Di dalam mesin terdapat alat khusus yang akan dipasangkan ke kepala dan akan memancarkan radiasi ke dalam otak. Radiasi ini berupa sinar gamma yang akan difokuskan pada tumor di dalam otak, dan memotong serta menghancurkan tumor tersebut tanpa merusak jaringan otak lainnya. Selama prosedur SRS, pasien akan tetap sadar namun diberikan obat penenang selama prosedur berlangsung.

Pasien yang menjalani AWS akan diberikan berbagai pertanyaan oleh dokter untuk memastikan bedah saraf dilakukan pada daerah yang tepat dan tidak merusak daerah otak lainnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan tergolong sederhana, yaitu seputar kata dan gambar. Pasien juga akan diminta untuk menggerakkan anggota tubuh atau menggerakkan jari selama prosedur AWS. Jika seluruh prosedur bedah sudah selesai dilakukan, insisi yang dibuat akan ditutup kembali.

Setelah Bedah Saraf

Pasien yang sudah menjalani prosedur bedah saraf akan segera dirawat untuk menjalani pemulihan pasca operasi. Masa pemulihan pasien yang sudah menjalani bedah saraf sangatlah penting, terutama untuk menghindari komplikasi dan kematian pasien. Pada beberapa kasus, buruknya hasil bedah saraf justru diakibatkan masa pemulihan pasca operasi yang tidak dijalankan dengan baik.

Tindakan bedah saraf umumnya merupakan operasi besar, sehingga pasien akan menjalani pemulihan di rumah sakit terlebih dahulu sebelum diperbolehkan untuk pulang. Pasien dapat menjalani pemulihan di ruang ICU, namun beberapa pasien dapat menjalani pemulihan di ruang rawat inap biasa. Lamanya waktu pemulihan yang dijalani oleh pasien berbeda-beda, tergantung prosedur bedah saraf yang dijalani dan anestesi yang diberikan.

Pasien yang menjalani prosedur bedah otak, seperti kraniotomi atau AWS, akan diposisikan dengan kepala lebih tinggi dibanding anggota badan yang lain setelah operasi. Tujuannya adalah untuk mencegah penumpukan cairan dan aliran darah di bagian kepala, dan menghindari pembengkakan pada kepala dan wajah. Untuk mencegah pembengkakan otak, dokter dapat memberikan obat, seperti propofol atau phenobarbital. Selama masa pemulihan, pasien juga akan dipantau tekanan dalam otak secara intensif untuk menghindari adanya efek samping yang tidak diinginkan.

Pasien kraniotomi dan AWS akan dirawat secara intensif dengan dilakukan pemantauan terhadap:

  • Tekanan darah.
  • Kadar oksigen dalam darah.
  • Denyut jantung.
  • Laju pernapasan.
  • Suhu tubuh.
  • EEG.
  • Kadar elektrolit dan cairan tubuh.

Pasien yang menjalani pemulihan dari kraniotomi akan dicek fungsi otaknya setelah menjalani operasi. Dokter akan memeriksa:

  • Gerakan mata dan pupil, melalui penyinaran senter ke mata.
  • Gerakan tangan dan kaki.
  • Kekuatan tangan dan kaki.
  • Orientasi pasien, dengan menanyakan beberapa pertanyaan sederhana, seperti nama, tanggal, dan tempat pasien berada.

Selama masa awal pemulihan pasca operasi, pasien kraniotomi tetap akan dipasangkan alat bantuan pernapasan. Untuk memfasilitasi buang air kecil, pasien akan dipasangi kateter pada saluran kencingnya. Pasien juga akan dilatih untuk bernapas setelah alat bantu pernapasan dilepas. Latihan pernapasan ini berfungsi untuk membantu pasien menggunakan paru-parunya kembali, serta mencegah pneumonia.

Selain pasien kraniotomi, pasien yang menjalani bedah saraf tulang belakang, terutama bedah saraf leher (servikal), akan dipasangi alat bantu pernapasan dalam awal pemulihan pasca operasi.

Pasien yang menjalani prosedur SRS dapat mengalami efek samping, seperti sakit kepala, mual, dan muntah-muntah. Dokter akan memberikan obat untuk meringankan efek samping tersebut selama masa pemulihan. Pasien yang menjalani neuroendoskopi juga dapat merasakan efek samping yang sama, disertai dengan penyumbatan pada hidung. Dokter akan memberikan obat-obatan untuk meredakan efek samping selama pasien menjalani masa pemulihan. Dokter juga akan memantau kadar hormon untuk mengetahui kinerja kelenjar hipofisis pada otak. Jika dari pemantauan diketahui bahwa kelenjar hipofisis tidak bekerja menghasilkan hormon dengan baik, maka pasien akan menjalani terapi penggantian hormon.

Antibiotik akan diberikan kepada pasien yang menjalani bedah saraf, baik sebelum maupun sesudah operasi. Pemberian antibiotik bertujuan untuk:

  • Mencegah pneumonia.
  • Mencegah munculnya kembali abses otak, setelah dilakukan bedah saraf untuk menangani abses.
  • Mencegah meningitis, terutama meningitis yang diakibatkan oleh bocornya cairan otak.
  • Mencegah infeksi pada pasien hidrosefalus yang menjalani pemasangan VP shunt.

Selain diberikan antibiotik, pasien juga dapat diberikan obat pengencer darah untuk mencegah terjadinya gumpalan darah, kecuali jika pasien memiliki gangguan pembekuan darah. Untuk mencegah kejang pada pasien bedah saraf otak, dokter dapat memberikan obat antikonvulsan sebagai upaya pencegahan kejang.

Setelah selesai menjalani pemulihan di rumah sakit, pasien biasanya dibolehkan untuk pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan. Lamanya waktu perawatan di rumah sakit bergantung kepada seberapa parah tingkat keparahan penyakit saraf yang diderita dan jenis prosedur bedah saraf yang dijalani.


Bedah Saraf, Ini yang Harus Anda Ketahui | Bang Naga | on 2018-05-15T11:37:56+07:00"/> 4.5
loading...