Alodokter  |  Informasi Kesehatan Terlengkap dan Terpercaya

Konsultasi Penyakit Dalam, Ini Yang Harus Anda Ketahui

Konsultasi penyakit dalam adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk memeriksa kondisi dan gangguan pada organ bagian dalam tubuh, serta mendiagnosis penyakit dalam yang mungkin diderita pasien. Hasil konsultasi nantinya akan digunakan untuk menentukan dan merencanakan jenis pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Penyakit dalam adalah spesialisasi kedokteran yang berhubungan dengan berbagai jenis kondisi medis atau penyakit yang memengaruhi kinerja dan fungsi organ bagian dalam pada tubuh manusia. Dokter yang secara khusus menangani penyakit dalam disebut dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) atau internis. Tujuan utama dari konsultasi penyakit dalam adalah untuk mendiagnosis, mengobati, dan mencegah berbagai jenis penyakit dalam.

Jenis Penyakit Dalam

Berikut ini adalah beberapa pembagian (subspesialisasi) dari cabang ilmu penyakit dalam, dan contoh jenis penyakit yang ditangani:

  • Alergi imunologi (Sp.PD-KAI), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan alergi dan gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh. Contoh penyakit: asma, rinitis alergi, dan urtikaria atau biduran.
  • Gastroenterohepatologi (Sp.PD-KGEH), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap sistem pencernaan dan organ hati. Contoh penyakit: gastritis, hepatitis, dan pankreatitis.
  • Geriatri (Sp.PD-KGer), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan medis yang dialami oleh pasien lanjut usia akibat proses penuaan. Contoh penyakit: demensia dan osteoartritis
  • Ginjal hipertensi (Sp.PD-KGH), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ ginjal dan tekanan darah tinggi. Contoh penyakit: gagal ginjal kronis atau akut, infeksi saluran kemih, dan hipertensi
  • Hematologi onkologi medik (Sp.PD-KHOM), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan atau kelainan pada darah dan penyakit kanker. Contoh penyakit: anemia, leukemia, dan limfoma.
  • Kardiologi (Sp.PD-KKV), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ jantung. Contoh penyakit: gagal jantung, penyakit jantung koroner, dan penyakit katup jantung
  • Metabolik endokrin (Sp.PD-KEMD), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap proses metabolisme tubuh. Contoh penyakit: diabetes, gangguan hormon tiroid, dan kolesterol tinggi
  • Psikosomatik (Sp.PD-KPsi), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan jenis penyakit yang muncul atau diperparah akibat gangguan mental. Contoh penyakit: irritable bowel syndrome
  • Pulmonologi (Sp.PD-KP), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ paru. Contoh penyakit: tuberkulosis, pneumonia, dan bronkitis
  • Reumatologi (Sp.PD-KR), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap sendi dan kondisi autoimun. Contoh penyakit: rheumatoid arthritis, tendonitis, dan lupus.
  • Tropik infeksi (Sp.PD-KPTI), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan berbagai jenis penyakit atau infeksi yang umumnya muncul di daerah tropis. Contoh penyakit: malaria, kaki gajah (filariasis), dan demam berdarah.

Sebelum Konsultasi Penyakit Dalam

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum pasien melakukan konsultasi penyakit dalam. Tindakan ini penting dilakukan untuk mempermudah proses pemeriksaan dan diagnosis pasien oleh dokter spesialis penyakit dalam. Hal-hal tersebut meliputi:

  • Riwayat kesehatan secara keseluruhan, baik penyakit maupun alergi yang sedang atau pernah diderita pasien. Sebaiknya, pasien juga membawa seluruh pemeriksaan terdahulu, seperti foto Rontgen, hasil tes laboratorium, dan hasil CT scan atau MRI yang pernah dijalani.
  • Jenis obat atau produk herba yang sedang atau pernah dikonsumsi. Sebaiknya pasien juga membawa obat yang dikonsumsi, sehingga dokter dapat mengetahui lebih jelas tentang obat tersebut.
  • Surat rujukan. Pasien juga sebaiknya membawa surat rujukan dari dokter umum atau dokter spesialis lainnya. Surat rujukan dapat menjadi gambaran awal bagi dokter penyakit dalam mengenai kondisi pasien, petunjuk pengobatan, maupun penanganan lebih lanjut.

Prosedur Konsultasi Penyakit Dalam

Ada beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan selama pasien menjalani konsultasi penyakit dalam. Jenis pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan riwayat kesehatan. Tahap pemeriksaan paling awal dalam proses konsultasi penyakit dalam. Pada tahap ini, dokter akan mengajukan pertanyaan tentang beberapa hal kepada pasien, antara lain:
    • Keluhan terhadap gangguan kesehatan yang dialami pasien saat ini.
    • Riwayat kesehatan pasien, termasuk gangguan kesehatan yang pernah diderita pasien baru-baru ini atau pada masa lalu. Pemeriksaan ini meliputi beberapa hal, yaitu:
      • Jenis terapi pengobatan yang pernah dijalani.
      • Tindakan operasi yang pernah dilalui.
      • Komplikasi atau trauma yang pernah dialami pasien.
    • Riwayat penggunaan obat, termasuk obat yang sedang atau pernah dikonsumsi, baik obat resep, obat bebas, maupun herba.
    • Riwayat kesehatan keluarga, termasuk berbagai gangguan kesehatan yang sedang atau pernah dialami orang tua, saudara kandung, maupun anak-anak pasien.
    • Riwayat gaya hidup dan kehidupan sosial, termasuk riwayat merokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan terlarang, pekerjaan, kepemilikan hewan peliharaan, dan hobi.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada tubuh pasien. Sebagai langkah awal, dokter biasanya akan melakukan penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa hal, antara lain:
    • Pemeriksaan tanda vital, meliputi pengukuran tekanan darah, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan.
    • Pemeriksaan fisik lanjutan, yaitu pemeriksaan terhadap sejumlah bagian tubuh untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang mungkin dialami pasien. Pemeriksaan fisik meliputi:
      • Kepala dan leher. Pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan atau gangguan pada tenggorokan dan amandel. Kualitas gigi dan gusi juga dapat memberikan informasi mengenai kesehatan pasien secara keseluruhan. Pemeriksaan kepala dan leher juga meliputi telinga, hidung, mata, kelenjar getah bening, tiroid, dan pembuluh darah leher.
      • Jantung. Dokter akan menggunakan alat bantu stetoskop untuk mendeteksi beberapa kondisi, seperti detak jantung yang tidak beraturan atau bunyi jantung abnormal.
      • Paru. Pemeriksaan untuk mendeteksi suara abnormal yang mungkin berasal dari organ paru.
      • Perut. Pemeriksaan untuk mendeteksi ukuran hati dan keberadaan cairan perut dengan cara menekan perut pasien, serta mendengarkan suara dalam usus dengan menggunakan stetoskop.
      • Sistem saraf dan motorik. Pemeriksaan yang meliputi saraf, kekuatan otot, refleks, dan keseimbangan.
      • Kulit. Pemeriksaan terhadap kondisi kulit dan kuku karena dapat menunjukkan gangguan atau penyakit di bagian tubuh lain.
  • Pemeriksaan Penunjang. Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis suatu penyakit. Ada beberapa jenis pemeriksaan penunjang, antara lain:
    • Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil sampel darah, urine, atau jenis cairan lain untuk kemudian menjalani proses analisis di laboratorium. Beberapa jenis pemeriksaan laboratorium, antara lain:
      • Tes darah. Tes yang dilakukan untuk mendeteksi jumlah sel darah (hitung darah lengkap), zat kimia dalam darah, gula darah, kolesterol, fungsi hati, hormon tiroid, fungsi ginjal, hingga tingkat pembekuan darah.
      • Tes urine (urinalisis). Tes yang dilakukan untuk mendeteksi berbagai gangguan, seperti infeksi saluran kemih, penyakit ginjal, dan diabetes. Tes urine biasanya meliputi pemeriksaan tampilan, berat jenis, dan kandungan zat kimia pada urine.
      • Pemeriksaan cairan tubuh lainnya. Pemeriksaan ini umumnya meliputi pemeriksaan dahak dan feses. Pemeriksaan dahak dilakukan untuk mendeteksi risiko infeksi yang mungkin terjadi di paru atau saluran pernapasan. Sementara, pemeriksaan feses dilakukan untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang terjadi pada sistem pencernaan pasien.
      • Biopsi. Tes yang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan tubuh untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
    • Radiologi. Jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit dengan menggunakan gelombang sinar, gelombang suara berfrekuensi tinggi, atau medan magnet. Beberapa jenis pemeriksaan radiologi, antara lain:
      • Foto Rontgen. Jenis pemeriksaan medis dengan menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh pasien.
      • USG adalah jenis pemeriksaan medis dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menangkap gambar dari bagian dalam tubuh pasien. USG memungkinkan dokter untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang terjadi pada organ, pembuluh, atau jaringan tubuh pasien tanpa harus membuat sayatan.
      • CT scan adalah jenis pemeriksaan dengan menggunakan komputer dan mesin sinar-X yang memutar, sehingga dapat menghasikan gambar tubuh bagian dalam dari berbagai sudut secara lebih detail dibandingkan foto Rontgen. CT scan dapat digunakan untuk memvisualisasikan berbagai bagian tubuh, seperti kepala, bahu, tulang belakang, perut, lutut, dan dada.
      • MRI adalah jenis pemeriksaan dengan menggunakan media medan magnet untuk menghasilkan gambar secara detail atau gambar 3 dimensi dari organ dan jaringan di dalam tubuh pasien. Mesin MRI berbentuk menyerupai tabung.

Setelah Konsultasi Penyakit Dalam

Setelah pasien menjalani konsultasi dan pemeriksaan, dokter spesialis penyakit dalam akan meninjau hasil pemeriksaan, hasil laboratorium, dan hasil pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan. Dari seluruh tes tersebut, dokter spesialis akan memperoleh keputusan, yaitu:

  • Kemungkinan diagnosis. Melalui konsultasi dan pemeriksaan, internis dapat menentukan kemungkinan diagnosis dari gejala yang dialami pasien.
  • Rencana terapi atau pengobatan. Setelah pasien terdiagnosis suatu penyakit, dokter akan menentukan metode atau jenis terapi pengobatan yang sesuai dengan kondisi atau penyakit yang dialami pasien. Rencana terapi dilakukan untuk mengendalikan gejala dan mengobati gangguan medis yang dialami pasien. Rencana terapi dapat berbentuk:
    • Rencana perawatan, baik rawat inap atau rawat jalan.
    • Jenis obat-obatan yang akan dikonsumsi.
    • Tindakan medis, seperti operasi, kemoterapi, radioterapi, fisioterapi, atau cuci darah.
Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi

" />

Konsultasi Penyakit Dalam, Ini Yang Harus Anda Ketahui

Oleh : Sulastri Habeahan on pada 17 Jul 2017, 21:00 WIB

Alodokter  |  Informasi Kesehatan Terlengkap dan Terpercaya

Konsultasi Penyakit Dalam, Ini Yang Harus Anda Ketahui

Konsultasi penyakit dalam adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk memeriksa kondisi dan gangguan pada organ bagian dalam tubuh, serta mendiagnosis penyakit dalam yang mungkin diderita pasien. Hasil konsultasi nantinya akan digunakan untuk menentukan dan merencanakan jenis pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Penyakit dalam adalah spesialisasi kedokteran yang berhubungan dengan berbagai jenis kondisi medis atau penyakit yang memengaruhi kinerja dan fungsi organ bagian dalam pada tubuh manusia. Dokter yang secara khusus menangani penyakit dalam disebut dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) atau internis. Tujuan utama dari konsultasi penyakit dalam adalah untuk mendiagnosis, mengobati, dan mencegah berbagai jenis penyakit dalam.

Jenis Penyakit Dalam

Berikut ini adalah beberapa pembagian (subspesialisasi) dari cabang ilmu penyakit dalam, dan contoh jenis penyakit yang ditangani:

  • Alergi imunologi (Sp.PD-KAI), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan alergi dan gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh. Contoh penyakit: asma, rinitis alergi, dan urtikaria atau biduran.
  • Gastroenterohepatologi (Sp.PD-KGEH), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap sistem pencernaan dan organ hati. Contoh penyakit: gastritis, hepatitis, dan pankreatitis.
  • Geriatri (Sp.PD-KGer), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan medis yang dialami oleh pasien lanjut usia akibat proses penuaan. Contoh penyakit: demensia dan osteoartritis
  • Ginjal hipertensi (Sp.PD-KGH), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ ginjal dan tekanan darah tinggi. Contoh penyakit: gagal ginjal kronis atau akut, infeksi saluran kemih, dan hipertensi
  • Hematologi onkologi medik (Sp.PD-KHOM), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan atau kelainan pada darah dan penyakit kanker. Contoh penyakit: anemia, leukemia, dan limfoma.
  • Kardiologi (Sp.PD-KKV), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ jantung. Contoh penyakit: gagal jantung, penyakit jantung koroner, dan penyakit katup jantung
  • Metabolik endokrin (Sp.PD-KEMD), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap proses metabolisme tubuh. Contoh penyakit: diabetes, gangguan hormon tiroid, dan kolesterol tinggi
  • Psikosomatik (Sp.PD-KPsi), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan jenis penyakit yang muncul atau diperparah akibat gangguan mental. Contoh penyakit: irritable bowel syndrome
  • Pulmonologi (Sp.PD-KP), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ paru. Contoh penyakit: tuberkulosis, pneumonia, dan bronkitis
  • Reumatologi (Sp.PD-KR), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap sendi dan kondisi autoimun. Contoh penyakit: rheumatoid arthritis, tendonitis, dan lupus.
  • Tropik infeksi (Sp.PD-KPTI), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan berbagai jenis penyakit atau infeksi yang umumnya muncul di daerah tropis. Contoh penyakit: malaria, kaki gajah (filariasis), dan demam berdarah.

Sebelum Konsultasi Penyakit Dalam

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum pasien melakukan konsultasi penyakit dalam. Tindakan ini penting dilakukan untuk mempermudah proses pemeriksaan dan diagnosis pasien oleh dokter spesialis penyakit dalam. Hal-hal tersebut meliputi:

  • Riwayat kesehatan secara keseluruhan, baik penyakit maupun alergi yang sedang atau pernah diderita pasien. Sebaiknya, pasien juga membawa seluruh pemeriksaan terdahulu, seperti foto Rontgen, hasil tes laboratorium, dan hasil CT scan atau MRI yang pernah dijalani.
  • Jenis obat atau produk herba yang sedang atau pernah dikonsumsi. Sebaiknya pasien juga membawa obat yang dikonsumsi, sehingga dokter dapat mengetahui lebih jelas tentang obat tersebut.
  • Surat rujukan. Pasien juga sebaiknya membawa surat rujukan dari dokter umum atau dokter spesialis lainnya. Surat rujukan dapat menjadi gambaran awal bagi dokter penyakit dalam mengenai kondisi pasien, petunjuk pengobatan, maupun penanganan lebih lanjut.

Prosedur Konsultasi Penyakit Dalam

Ada beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan selama pasien menjalani konsultasi penyakit dalam. Jenis pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan riwayat kesehatan. Tahap pemeriksaan paling awal dalam proses konsultasi penyakit dalam. Pada tahap ini, dokter akan mengajukan pertanyaan tentang beberapa hal kepada pasien, antara lain:
    • Keluhan terhadap gangguan kesehatan yang dialami pasien saat ini.
    • Riwayat kesehatan pasien, termasuk gangguan kesehatan yang pernah diderita pasien baru-baru ini atau pada masa lalu. Pemeriksaan ini meliputi beberapa hal, yaitu:
      • Jenis terapi pengobatan yang pernah dijalani.
      • Tindakan operasi yang pernah dilalui.
      • Komplikasi atau trauma yang pernah dialami pasien.
    • Riwayat penggunaan obat, termasuk obat yang sedang atau pernah dikonsumsi, baik obat resep, obat bebas, maupun herba.
    • Riwayat kesehatan keluarga, termasuk berbagai gangguan kesehatan yang sedang atau pernah dialami orang tua, saudara kandung, maupun anak-anak pasien.
    • Riwayat gaya hidup dan kehidupan sosial, termasuk riwayat merokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan terlarang, pekerjaan, kepemilikan hewan peliharaan, dan hobi.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada tubuh pasien. Sebagai langkah awal, dokter biasanya akan melakukan penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa hal, antara lain:
    • Pemeriksaan tanda vital, meliputi pengukuran tekanan darah, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan.
    • Pemeriksaan fisik lanjutan, yaitu pemeriksaan terhadap sejumlah bagian tubuh untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang mungkin dialami pasien. Pemeriksaan fisik meliputi:
      • Kepala dan leher. Pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan atau gangguan pada tenggorokan dan amandel. Kualitas gigi dan gusi juga dapat memberikan informasi mengenai kesehatan pasien secara keseluruhan. Pemeriksaan kepala dan leher juga meliputi telinga, hidung, mata, kelenjar getah bening, tiroid, dan pembuluh darah leher.
      • Jantung. Dokter akan menggunakan alat bantu stetoskop untuk mendeteksi beberapa kondisi, seperti detak jantung yang tidak beraturan atau bunyi jantung abnormal.
      • Paru. Pemeriksaan untuk mendeteksi suara abnormal yang mungkin berasal dari organ paru.
      • Perut. Pemeriksaan untuk mendeteksi ukuran hati dan keberadaan cairan perut dengan cara menekan perut pasien, serta mendengarkan suara dalam usus dengan menggunakan stetoskop.
      • Sistem saraf dan motorik. Pemeriksaan yang meliputi saraf, kekuatan otot, refleks, dan keseimbangan.
      • Kulit. Pemeriksaan terhadap kondisi kulit dan kuku karena dapat menunjukkan gangguan atau penyakit di bagian tubuh lain.
  • Pemeriksaan Penunjang. Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis suatu penyakit. Ada beberapa jenis pemeriksaan penunjang, antara lain:
    • Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil sampel darah, urine, atau jenis cairan lain untuk kemudian menjalani proses analisis di laboratorium. Beberapa jenis pemeriksaan laboratorium, antara lain:
      • Tes darah. Tes yang dilakukan untuk mendeteksi jumlah sel darah (hitung darah lengkap), zat kimia dalam darah, gula darah, kolesterol, fungsi hati, hormon tiroid, fungsi ginjal, hingga tingkat pembekuan darah.
      • Tes urine (urinalisis). Tes yang dilakukan untuk mendeteksi berbagai gangguan, seperti infeksi saluran kemih, penyakit ginjal, dan diabetes. Tes urine biasanya meliputi pemeriksaan tampilan, berat jenis, dan kandungan zat kimia pada urine.
      • Pemeriksaan cairan tubuh lainnya. Pemeriksaan ini umumnya meliputi pemeriksaan dahak dan feses. Pemeriksaan dahak dilakukan untuk mendeteksi risiko infeksi yang mungkin terjadi di paru atau saluran pernapasan. Sementara, pemeriksaan feses dilakukan untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang terjadi pada sistem pencernaan pasien.
      • Biopsi. Tes yang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan tubuh untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
    • Radiologi. Jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit dengan menggunakan gelombang sinar, gelombang suara berfrekuensi tinggi, atau medan magnet. Beberapa jenis pemeriksaan radiologi, antara lain:
      • Foto Rontgen. Jenis pemeriksaan medis dengan menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh pasien.
      • USG adalah jenis pemeriksaan medis dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menangkap gambar dari bagian dalam tubuh pasien. USG memungkinkan dokter untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang terjadi pada organ, pembuluh, atau jaringan tubuh pasien tanpa harus membuat sayatan.
      • CT scan adalah jenis pemeriksaan dengan menggunakan komputer dan mesin sinar-X yang memutar, sehingga dapat menghasikan gambar tubuh bagian dalam dari berbagai sudut secara lebih detail dibandingkan foto Rontgen. CT scan dapat digunakan untuk memvisualisasikan berbagai bagian tubuh, seperti kepala, bahu, tulang belakang, perut, lutut, dan dada.
      • MRI adalah jenis pemeriksaan dengan menggunakan media medan magnet untuk menghasilkan gambar secara detail atau gambar 3 dimensi dari organ dan jaringan di dalam tubuh pasien. Mesin MRI berbentuk menyerupai tabung.

Setelah Konsultasi Penyakit Dalam

Setelah pasien menjalani konsultasi dan pemeriksaan, dokter spesialis penyakit dalam akan meninjau hasil pemeriksaan, hasil laboratorium, dan hasil pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan. Dari seluruh tes tersebut, dokter spesialis akan memperoleh keputusan, yaitu:

  • Kemungkinan diagnosis. Melalui konsultasi dan pemeriksaan, internis dapat menentukan kemungkinan diagnosis dari gejala yang dialami pasien.
  • Rencana terapi atau pengobatan. Setelah pasien terdiagnosis suatu penyakit, dokter akan menentukan metode atau jenis terapi pengobatan yang sesuai dengan kondisi atau penyakit yang dialami pasien. Rencana terapi dilakukan untuk mengendalikan gejala dan mengobati gangguan medis yang dialami pasien. Rencana terapi dapat berbentuk:
    • Rencana perawatan, baik rawat inap atau rawat jalan.
    • Jenis obat-obatan yang akan dikonsumsi.
    • Tindakan medis, seperti operasi, kemoterapi, radioterapi, fisioterapi, atau cuci darah.
Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi

" alt="" width="100%" height="250">

Konsultasi penyakit dalam adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk memeriksa kondisi dan gangguan pada organ bagian dalam tubuh, serta mendiagnosis penyakit dalam yang mungkin diderita pasien. Hasil konsultasi nantinya akan digunakan untuk menentukan dan merencanakan jenis pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Penyakit dalam adalah spesialisasi kedokteran yang berhubungan dengan berbagai jenis kondisi medis atau penyakit yang memengaruhi kinerja dan fungsi organ bagian dalam pada tubuh manusia. Dokter yang secara khusus menangani penyakit dalam disebut dokter spesialis penyakit dalam (Sp.PD) atau internis. Tujuan utama dari konsultasi penyakit dalam adalah untuk mendiagnosis, mengobati, dan mencegah berbagai jenis penyakit dalam.

Jenis Penyakit Dalam

Berikut ini adalah beberapa pembagian (subspesialisasi) dari cabang ilmu penyakit dalam, dan contoh jenis penyakit yang ditangani:

  • Alergi imunologi (Sp.PD-KAI), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan alergi dan gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh. Contoh penyakit: asma, rinitis alergi, dan urtikaria atau biduran.
  • Gastroenterohepatologi (Sp.PD-KGEH), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap sistem pencernaan dan organ hati. Contoh penyakit: gastritis, hepatitis, dan pankreatitis.
  • Geriatri (Sp.PD-KGer), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan medis yang dialami oleh pasien lanjut usia akibat proses penuaan. Contoh penyakit: demensia dan osteoartritis
  • Ginjal hipertensi (Sp.PD-KGH), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ ginjal dan tekanan darah tinggi. Contoh penyakit: gagal ginjal kronis atau akut, infeksi saluran kemih, dan hipertensi
  • Hematologi onkologi medik (Sp.PD-KHOM), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan atau kelainan pada darah dan penyakit kanker. Contoh penyakit: anemia, leukemia, dan limfoma.
  • Kardiologi (Sp.PD-KKV), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ jantung. Contoh penyakit: gagal jantung, penyakit jantung koroner, dan penyakit katup jantung
  • Metabolik endokrin (Sp.PD-KEMD), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap proses metabolisme tubuh. Contoh penyakit: diabetes, gangguan hormon tiroid, dan kolesterol tinggi
  • Psikosomatik (Sp.PD-KPsi), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan jenis penyakit yang muncul atau diperparah akibat gangguan mental. Contoh penyakit: irritable bowel syndrome
  • Pulmonologi (Sp.PD-KP), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap organ paru. Contoh penyakit: tuberkulosis, pneumonia, dan bronkitis
  • Reumatologi (Sp.PD-KR), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan gangguan terhadap sendi dan kondisi autoimun. Contoh penyakit: rheumatoid arthritis, tendonitis, dan lupus.
  • Tropik infeksi (Sp.PD-KPTI), yaitu cabang ilmu penyakit dalam yang berkaitan dengan berbagai jenis penyakit atau infeksi yang umumnya muncul di daerah tropis. Contoh penyakit: malaria, kaki gajah (filariasis), dan demam berdarah.

Sebelum Konsultasi Penyakit Dalam

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum pasien melakukan konsultasi penyakit dalam. Tindakan ini penting dilakukan untuk mempermudah proses pemeriksaan dan diagnosis pasien oleh dokter spesialis penyakit dalam. Hal-hal tersebut meliputi:

  • Riwayat kesehatan secara keseluruhan, baik penyakit maupun alergi yang sedang atau pernah diderita pasien. Sebaiknya, pasien juga membawa seluruh pemeriksaan terdahulu, seperti foto Rontgen, hasil tes laboratorium, dan hasil CT scan atau MRI yang pernah dijalani.
  • Jenis obat atau produk herba yang sedang atau pernah dikonsumsi. Sebaiknya pasien juga membawa obat yang dikonsumsi, sehingga dokter dapat mengetahui lebih jelas tentang obat tersebut.
  • Surat rujukan. Pasien juga sebaiknya membawa surat rujukan dari dokter umum atau dokter spesialis lainnya. Surat rujukan dapat menjadi gambaran awal bagi dokter penyakit dalam mengenai kondisi pasien, petunjuk pengobatan, maupun penanganan lebih lanjut.

Prosedur Konsultasi Penyakit Dalam

Ada beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan selama pasien menjalani konsultasi penyakit dalam. Jenis pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan riwayat kesehatan. Tahap pemeriksaan paling awal dalam proses konsultasi penyakit dalam. Pada tahap ini, dokter akan mengajukan pertanyaan tentang beberapa hal kepada pasien, antara lain:
    • Keluhan terhadap gangguan kesehatan yang dialami pasien saat ini.
    • Riwayat kesehatan pasien, termasuk gangguan kesehatan yang pernah diderita pasien baru-baru ini atau pada masa lalu. Pemeriksaan ini meliputi beberapa hal, yaitu:
      • Jenis terapi pengobatan yang pernah dijalani.
      • Tindakan operasi yang pernah dilalui.
      • Komplikasi atau trauma yang pernah dialami pasien.
    • Riwayat penggunaan obat, termasuk obat yang sedang atau pernah dikonsumsi, baik obat resep, obat bebas, maupun herba.
    • Riwayat kesehatan keluarga, termasuk berbagai gangguan kesehatan yang sedang atau pernah dialami orang tua, saudara kandung, maupun anak-anak pasien.
    • Riwayat gaya hidup dan kehidupan sosial, termasuk riwayat merokok, konsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan terlarang, pekerjaan, kepemilikan hewan peliharaan, dan hobi.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada tubuh pasien. Sebagai langkah awal, dokter biasanya akan melakukan penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan terhadap beberapa hal, antara lain:
    • Pemeriksaan tanda vital, meliputi pengukuran tekanan darah, denyut jantung, dan frekuensi pernapasan.
    • Pemeriksaan fisik lanjutan, yaitu pemeriksaan terhadap sejumlah bagian tubuh untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang mungkin dialami pasien. Pemeriksaan fisik meliputi:
      • Kepala dan leher. Pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan atau gangguan pada tenggorokan dan amandel. Kualitas gigi dan gusi juga dapat memberikan informasi mengenai kesehatan pasien secara keseluruhan. Pemeriksaan kepala dan leher juga meliputi telinga, hidung, mata, kelenjar getah bening, tiroid, dan pembuluh darah leher.
      • Jantung. Dokter akan menggunakan alat bantu stetoskop untuk mendeteksi beberapa kondisi, seperti detak jantung yang tidak beraturan atau bunyi jantung abnormal.
      • Paru. Pemeriksaan untuk mendeteksi suara abnormal yang mungkin berasal dari organ paru.
      • Perut. Pemeriksaan untuk mendeteksi ukuran hati dan keberadaan cairan perut dengan cara menekan perut pasien, serta mendengarkan suara dalam usus dengan menggunakan stetoskop.
      • Sistem saraf dan motorik. Pemeriksaan yang meliputi saraf, kekuatan otot, refleks, dan keseimbangan.
      • Kulit. Pemeriksaan terhadap kondisi kulit dan kuku karena dapat menunjukkan gangguan atau penyakit di bagian tubuh lain.
  • Pemeriksaan Penunjang. Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis suatu penyakit. Ada beberapa jenis pemeriksaan penunjang, antara lain:
    • Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil sampel darah, urine, atau jenis cairan lain untuk kemudian menjalani proses analisis di laboratorium. Beberapa jenis pemeriksaan laboratorium, antara lain:
      • Tes darah. Tes yang dilakukan untuk mendeteksi jumlah sel darah (hitung darah lengkap), zat kimia dalam darah, gula darah, kolesterol, fungsi hati, hormon tiroid, fungsi ginjal, hingga tingkat pembekuan darah.
      • Tes urine (urinalisis). Tes yang dilakukan untuk mendeteksi berbagai gangguan, seperti infeksi saluran kemih, penyakit ginjal, dan diabetes. Tes urine biasanya meliputi pemeriksaan tampilan, berat jenis, dan kandungan zat kimia pada urine.
      • Pemeriksaan cairan tubuh lainnya. Pemeriksaan ini umumnya meliputi pemeriksaan dahak dan feses. Pemeriksaan dahak dilakukan untuk mendeteksi risiko infeksi yang mungkin terjadi di paru atau saluran pernapasan. Sementara, pemeriksaan feses dilakukan untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang terjadi pada sistem pencernaan pasien.
      • Biopsi. Tes yang dilakukan dengan mengambil sampel jaringan tubuh untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
    • Radiologi. Jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit dengan menggunakan gelombang sinar, gelombang suara berfrekuensi tinggi, atau medan magnet. Beberapa jenis pemeriksaan radiologi, antara lain:
      • Foto Rontgen. Jenis pemeriksaan medis dengan menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar bagian dalam tubuh pasien.
      • USG adalah jenis pemeriksaan medis dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menangkap gambar dari bagian dalam tubuh pasien. USG memungkinkan dokter untuk mendeteksi kelainan atau gangguan yang terjadi pada organ, pembuluh, atau jaringan tubuh pasien tanpa harus membuat sayatan.
      • CT scan adalah jenis pemeriksaan dengan menggunakan komputer dan mesin sinar-X yang memutar, sehingga dapat menghasikan gambar tubuh bagian dalam dari berbagai sudut secara lebih detail dibandingkan foto Rontgen. CT scan dapat digunakan untuk memvisualisasikan berbagai bagian tubuh, seperti kepala, bahu, tulang belakang, perut, lutut, dan dada.
      • MRI adalah jenis pemeriksaan dengan menggunakan media medan magnet untuk menghasilkan gambar secara detail atau gambar 3 dimensi dari organ dan jaringan di dalam tubuh pasien. Mesin MRI berbentuk menyerupai tabung.

Setelah Konsultasi Penyakit Dalam

Setelah pasien menjalani konsultasi dan pemeriksaan, dokter spesialis penyakit dalam akan meninjau hasil pemeriksaan, hasil laboratorium, dan hasil pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan. Dari seluruh tes tersebut, dokter spesialis akan memperoleh keputusan, yaitu:

  • Kemungkinan diagnosis. Melalui konsultasi dan pemeriksaan, internis dapat menentukan kemungkinan diagnosis dari gejala yang dialami pasien.
  • Rencana terapi atau pengobatan. Setelah pasien terdiagnosis suatu penyakit, dokter akan menentukan metode atau jenis terapi pengobatan yang sesuai dengan kondisi atau penyakit yang dialami pasien. Rencana terapi dilakukan untuk mengendalikan gejala dan mengobati gangguan medis yang dialami pasien. Rencana terapi dapat berbentuk:
    • Rencana perawatan, baik rawat inap atau rawat jalan.
    • Jenis obat-obatan yang akan dikonsumsi.
    • Tindakan medis, seperti operasi, kemoterapi, radioterapi, fisioterapi, atau cuci darah.

Konsultasi Penyakit Dalam, Ini Yang Harus Anda Ketahui | Bang Naga | on 2018-05-16T14:46:38+07:00"/> 4.5
loading...