Alodokter  |  Informasi Kesehatan Terlengkap dan Terpercaya

Tes HIV dan Hal-hal Penting yang Ada di Dalamnya

Tes HIV adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi infeksi HIV pada tubuh pasien. Dengan terdeteksinya HIV, selain bermanfaat bagi dirinya sendiri, individu tersebut juga bisa lebih berhati-hati agar tidak menyebarkan HIV kepada orang lain.

Ada dua metode dalam tes HIV, yaitu tes HIV yang memeriksa antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi HIV, dan tes HIV yang memeriksa keberadaan virus tersebut dalam tubuh. Tes HIV memiliki beberapa fungsi penting antara lain untuk mencegah penyebaran HIV, mendeteksi infeksi HIV sejak dini, serta mendeteksi darah, produk darah, atau organ dari pendonor sebelum diberikan kepada pasien lain. Dengan deteksi sejak dini, maka pengobatan menjadi lebih cepat, serta risiko penularan virus dapat diturunkan.

Indikasi Tes HIV

Tes HIV sebaiknya dilakukan oleh setiap individu, terutama yang berusia antara 13-64 tahun, sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan secara rutin. Namun, dokter akan menganjurkan tes HIV pada beberapa orang dengan kondisi sebagai berikut:

  • Memiliki gejala yang terduga HIV atau terdiagnosis dengan gangguan kesehatan tertentu, antara lain penyakit menular seksual, hepatitis B atau C, tuberkulosis, dan limfoma.
  • Sering berganti pasangan dan melakukan hubungan seksual tanpa kondom.
  • Berhubungan seks sesama jenis.
  • Menggunakan obat-obatan melalui suntik atau infus dan berbagi alat suntik.
  • Wanita hamil atau menyusui.
  • Bayi yang baru dilahirkan oleh wanita penderita HIV.
  • Menerima transfusi darah dari pendonor yang berasal dari negara dengan jumlah penderita HIV yang tinggi

Dokter menganjurkan pasien yang berisiko tinggi terhadap HIV untuk menjalani tes HIV tiap setahun sekali secara rutin. Untuk pasien yang diduga terpapar virus HIV, tes sebaiknya dilakukan pada 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan sejak pertama kali terpapar virus.

Peringatan Tes HIV

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi hasil tes HIV, antara lain:

  • Memiliki gangguan kesehatan, seperti penyakit autoimun, leukemia, atau sifilis.
  • Konsumsi obat kortikosteroid.
  • Masa jendela (window period), yaitu periode di mana antibodi terhadap HIV belum terbentuk, sehingga hasil tes masih negatif.
  • Konsumsi minuman beralkohol berlebihan.

Keadaan di atas dapat membuat hasil tes HIV positif walaupun pasien tidak terinfeksi HIV (positif palsu), atau sebaliknya hasil tes negatif padahal pasien terinfeksi HIV (negatif palsu).

Sebelum Tes HIV

Umumnya, pasien tidak memerlukan persiapan khusus sebelum menjalani tes HIV. Namun, dokter akan menawarkan konseling sebelum dan setelah tes untuk membahas berbagai hal, antara lain:

  • Bagaimana tes HIV dilakukan, interpretasi hasil tes, dan tes lain yang mungkin dilakukan.
  • Bagaimana diagnosis infeksi HIV dapat memengaruhi pandangan sosial, emosional, profesional, dan finansial pasien.
  • Berbagai manfaat diagnosis dan pengobatan sejak dini.

Penting untuk memberi tahu dokter bagaimana dan di mana dokter dapat menghubungi Anda ketika hasil tes keluar.

Jenis Tes HIV

Tes HIV terdiri atas beragam jenis dan tidak ada tes HIV yang sempurna. Karena itu, terkadang perlu dilakukan beberapa tes atau pengulangan terhadap tes untuk memastikan diagnosis.

Ada tiga jenis utama tes HIV, antara lain:

  • Tes antibodi, yaitu jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV adalah protein yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap infeksi HIV. Tes antibodi terdiri atas beberapa jenis, antara lain:
    • ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). ELISA merupakan tes HIV yang umumnya digunakan sebagai langkah awal untuk mendeteksi antibodi HIV. Sampel darah yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium dan dimasukkan ke dalam wadah yang telah diberi antigen HIV. Selanjutnya, enzim akan dimasukkan ke dalam wadah tersebut untuk mempercepat reaksi kimia antara darah dan antigen. Jika darah mengandung antibodi HIV, maka darah akan mengikat antigen tersebut di dalam wadah.
    • IFA (immunofluorescene antibody assay). Tes yang dilakukan dengan menggunakan pewarna fluoresens untuk mengidentifikasi keberadaan antibodi HIV. Pengamatan dilakukan dengan bantuan mikroskop beresolusi tinggi. Tes ini biasanya digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA.
    • Western Blot. Tes yang dilakukan dengan menggunakan metode pemisahan protein antibodi yang diekstrak dari sel darah. Sebelumnya, tes ini juga digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA, namun saat ini Western Blot sudah jarang digunakan sebagai tes HIV.
  • Tes PCR (polymerase chain reaction). Tes yang digunakan untuk mendeteksi RNA atau DNA HIV dalam darah. Tes PCR dilakukan dengan cara memperbanyak DNA melalui reaksi enzim. Tes PCR dapat dilakukan untuk memastikan keberadaan virus HIV ketika hasil tes antibodi masih diragukan.
  • Tes kombinasi antibodi-antigen (Ab-Ag test). Tes yang dilakukan untuk mendeteksi antigen HIV yang dikenal dengan p24 dan antibodi HIV-1 atau HIV-2. Dengan mengidentifikasi antigen p24, maka keberadaan virus HIV dapat terdeteksi sejak dini sebelum antibodi HIV diproduksi dalam tubuh. Tubuh umumnya membutuhkan waktu 2-6 minggu untuk memproduksi antigen dan antibodi sebagai respons terhadap infeksi.

Prosedur Tes HIV

Tes HIV umumnya dilakukan melalui prosedur pengambilan sampel darah. Langkah-langkah pengambilan darah adalah sebagai berikut:

  • Lengan atas pasien akan diikat dengan tali elastis untuk membendung aliran darah, sehingga pembuluh darah di bawah ikatan membesar dan akan lebih mudah menusuk jarum ke pembuluh darah vena.
  • Area kulit yang akan ditusuk jarum dibersihkan dengan alkohol.
  • Dokter akan menusukkan ujung jarum ke dalam vena dan memasang tabung pada ujung lainnya, kemudian darah akan terisi ke dalam tabung.
  • Setelah jumlah darah yang diambil cukup, dokter akan melepaskan tali elastis dari lengan pasien.
  • Kapas atau kain kasa beralkohol digunakan untuk menekan area suntikan ketika jarum dilepas.
  • Dokter akan menutup area suntikan dengan perban atau plester luka.

Hasil Tes HIV dan Setelah Tes HIV

Sampel darah yang telah diambil akan dianalisa di laboratorium untuk mendeteksi respons antibodi terhadap HIV atau materi genetik (DNA atau RNA) HIV di dalam darah. Hasil tes ELISA umumnya akan keluar dalam 2-4 hari, hasil tes Western Blot atau IFA membutuhkan waktu 1-2 minggu, sedangkan hasil tes PCR membutuhkan waktu 2-6 minggu.

Ada beberapa jenis hasil tes HIV, yaitu:

  • Normal atau negatif. Hasil tes dikatakan normal atau negatif jika:
    • Tidak ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien.
    • Tes PCR tidak mendeteksi keberadaan RNA atau DNA HIV.
  • Abnormal atau positif. Hasil tes dikatakan abnormal atau positif jika:
    • Ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien.
    • Tes PCR mendeteksi keberadaan materi genetik HIV (RNA atau DNA).
  • Tidak dapat ditentukan (indeterminate result). Hasil tes tidak menunjukkan secara jelas apakah pasien terinfeksi HIV atau tidak. Kondisi ini mungkin terjadi ketika antibodi HIV belum berkembang atau ketika jenis antibodi lain mengganggu hasil tes. Jika ini terjadi, tes PCR dapat dilakukan untuk melihat keberadaan virus. Pasien yang tetap memiliki hasil tes tidak tentu selama 6 bulan atau lebih disebut stable indeterminate dan dianggap tidak terinfeksi HIV.

Jika hasil tes HIV negatif, bukan berarti pasien tidak terinfeksi HIV. Pasien mungkin masih dalam masa inkubasi virus atau di dalam masa jendela, yaitu rentang waktu mulai dari awal penularan hingga muncul antibodi HIV. Dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani tes ulang 3 bulan setelah tes pertama. Hal ini dilakukan untuk memastikan hasil tes dan sebagai langkah pencegahan penyebaran virus. Jika hasil tes HIV ulang tetap negatif, maka dokter akan menyatakan Anda tidak terinfeksi virus HIV, namun tetap merekomendasikan pemeriksaan HIV secara berkala untuk deteksi dini infeksi HIV

Jika pasien dinyatakan positif terinfeksi HIV, maka pasien dan dokter dapat berdiskusi untuk merencanakan langkah dan jenis terapi pengobatan yang akan dijalani pasien. Ada beberapa langkah awal yang akan dianjurkan oleh dokter setelah terdiagnosis HIV, antara lain:

  • Berdiskusi dengan sesama penderita HIV akan sangat membantu pasien dalam melalui masa awal setelah diagnosis.
  • Mengonsumsi obat antiretroviral (ART) untuk menghambat perkembangan HIV dan membantu melindungi sistem imun tubuh pasien, dan risiko penularan juga dapat ditekan.
  • Menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mencegah kemungkinan adanya penyakit menular seksual (STD).
  • Menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan.
  • Meminta pasangan Anda untuk menjalani tes HIV.

Risiko Tes HIV

Prosedur pengambilan darah untuk tes HIV umumnya aman dilakukan dan jarang menimbulkan efek samping. Apabila ada, pasien mungkin hanya mengalami efek samping ringan, seperti:

  • Pusing atau sakit kepala.
  • Muncul memar kecil (hematoma) di area suntikan.
  • Lengan terasa nyeri dan lemas.
  • Infeksi pada area suntikan.

Efek samping psikologis mungkin terjadi, terutama jika pasien dinyatakan positif terinfeksi HIV. Pasien akan mengalami depresi, cepat marah, dan cemas.

Perdarahan dapat terjadi pada pasien dengan gangguan pembekuan darah. Konsumsi obat pengencer darah, seperti aspirin dan warfarin, sebelum prosedur pengambilan darah akan meningkatkan risiko perdarahan. Segera hubungi dokter jika mengalami kondisi ini.

Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi

" />

Tes HIV dan Hal

Oleh : Sulastri Habeahan on pada 17 Jul 2017, 21:00 WIB

Alodokter  |  Informasi Kesehatan Terlengkap dan Terpercaya

Tes HIV dan Hal-hal Penting yang Ada di Dalamnya

Tes HIV adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi infeksi HIV pada tubuh pasien. Dengan terdeteksinya HIV, selain bermanfaat bagi dirinya sendiri, individu tersebut juga bisa lebih berhati-hati agar tidak menyebarkan HIV kepada orang lain.

Ada dua metode dalam tes HIV, yaitu tes HIV yang memeriksa antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi HIV, dan tes HIV yang memeriksa keberadaan virus tersebut dalam tubuh. Tes HIV memiliki beberapa fungsi penting antara lain untuk mencegah penyebaran HIV, mendeteksi infeksi HIV sejak dini, serta mendeteksi darah, produk darah, atau organ dari pendonor sebelum diberikan kepada pasien lain. Dengan deteksi sejak dini, maka pengobatan menjadi lebih cepat, serta risiko penularan virus dapat diturunkan.

Indikasi Tes HIV

Tes HIV sebaiknya dilakukan oleh setiap individu, terutama yang berusia antara 13-64 tahun, sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan secara rutin. Namun, dokter akan menganjurkan tes HIV pada beberapa orang dengan kondisi sebagai berikut:

  • Memiliki gejala yang terduga HIV atau terdiagnosis dengan gangguan kesehatan tertentu, antara lain penyakit menular seksual, hepatitis B atau C, tuberkulosis, dan limfoma.
  • Sering berganti pasangan dan melakukan hubungan seksual tanpa kondom.
  • Berhubungan seks sesama jenis.
  • Menggunakan obat-obatan melalui suntik atau infus dan berbagi alat suntik.
  • Wanita hamil atau menyusui.
  • Bayi yang baru dilahirkan oleh wanita penderita HIV.
  • Menerima transfusi darah dari pendonor yang berasal dari negara dengan jumlah penderita HIV yang tinggi

Dokter menganjurkan pasien yang berisiko tinggi terhadap HIV untuk menjalani tes HIV tiap setahun sekali secara rutin. Untuk pasien yang diduga terpapar virus HIV, tes sebaiknya dilakukan pada 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan sejak pertama kali terpapar virus.

Peringatan Tes HIV

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi hasil tes HIV, antara lain:

  • Memiliki gangguan kesehatan, seperti penyakit autoimun, leukemia, atau sifilis.
  • Konsumsi obat kortikosteroid.
  • Masa jendela (window period), yaitu periode di mana antibodi terhadap HIV belum terbentuk, sehingga hasil tes masih negatif.
  • Konsumsi minuman beralkohol berlebihan.

Keadaan di atas dapat membuat hasil tes HIV positif walaupun pasien tidak terinfeksi HIV (positif palsu), atau sebaliknya hasil tes negatif padahal pasien terinfeksi HIV (negatif palsu).

Sebelum Tes HIV

Umumnya, pasien tidak memerlukan persiapan khusus sebelum menjalani tes HIV. Namun, dokter akan menawarkan konseling sebelum dan setelah tes untuk membahas berbagai hal, antara lain:

  • Bagaimana tes HIV dilakukan, interpretasi hasil tes, dan tes lain yang mungkin dilakukan.
  • Bagaimana diagnosis infeksi HIV dapat memengaruhi pandangan sosial, emosional, profesional, dan finansial pasien.
  • Berbagai manfaat diagnosis dan pengobatan sejak dini.

Penting untuk memberi tahu dokter bagaimana dan di mana dokter dapat menghubungi Anda ketika hasil tes keluar.

Jenis Tes HIV

Tes HIV terdiri atas beragam jenis dan tidak ada tes HIV yang sempurna. Karena itu, terkadang perlu dilakukan beberapa tes atau pengulangan terhadap tes untuk memastikan diagnosis.

Ada tiga jenis utama tes HIV, antara lain:

  • Tes antibodi, yaitu jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV adalah protein yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap infeksi HIV. Tes antibodi terdiri atas beberapa jenis, antara lain:
    • ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). ELISA merupakan tes HIV yang umumnya digunakan sebagai langkah awal untuk mendeteksi antibodi HIV. Sampel darah yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium dan dimasukkan ke dalam wadah yang telah diberi antigen HIV. Selanjutnya, enzim akan dimasukkan ke dalam wadah tersebut untuk mempercepat reaksi kimia antara darah dan antigen. Jika darah mengandung antibodi HIV, maka darah akan mengikat antigen tersebut di dalam wadah.
    • IFA (immunofluorescene antibody assay). Tes yang dilakukan dengan menggunakan pewarna fluoresens untuk mengidentifikasi keberadaan antibodi HIV. Pengamatan dilakukan dengan bantuan mikroskop beresolusi tinggi. Tes ini biasanya digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA.
    • Western Blot. Tes yang dilakukan dengan menggunakan metode pemisahan protein antibodi yang diekstrak dari sel darah. Sebelumnya, tes ini juga digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA, namun saat ini Western Blot sudah jarang digunakan sebagai tes HIV.
  • Tes PCR (polymerase chain reaction). Tes yang digunakan untuk mendeteksi RNA atau DNA HIV dalam darah. Tes PCR dilakukan dengan cara memperbanyak DNA melalui reaksi enzim. Tes PCR dapat dilakukan untuk memastikan keberadaan virus HIV ketika hasil tes antibodi masih diragukan.
  • Tes kombinasi antibodi-antigen (Ab-Ag test). Tes yang dilakukan untuk mendeteksi antigen HIV yang dikenal dengan p24 dan antibodi HIV-1 atau HIV-2. Dengan mengidentifikasi antigen p24, maka keberadaan virus HIV dapat terdeteksi sejak dini sebelum antibodi HIV diproduksi dalam tubuh. Tubuh umumnya membutuhkan waktu 2-6 minggu untuk memproduksi antigen dan antibodi sebagai respons terhadap infeksi.

Prosedur Tes HIV

Tes HIV umumnya dilakukan melalui prosedur pengambilan sampel darah. Langkah-langkah pengambilan darah adalah sebagai berikut:

  • Lengan atas pasien akan diikat dengan tali elastis untuk membendung aliran darah, sehingga pembuluh darah di bawah ikatan membesar dan akan lebih mudah menusuk jarum ke pembuluh darah vena.
  • Area kulit yang akan ditusuk jarum dibersihkan dengan alkohol.
  • Dokter akan menusukkan ujung jarum ke dalam vena dan memasang tabung pada ujung lainnya, kemudian darah akan terisi ke dalam tabung.
  • Setelah jumlah darah yang diambil cukup, dokter akan melepaskan tali elastis dari lengan pasien.
  • Kapas atau kain kasa beralkohol digunakan untuk menekan area suntikan ketika jarum dilepas.
  • Dokter akan menutup area suntikan dengan perban atau plester luka.

Hasil Tes HIV dan Setelah Tes HIV

Sampel darah yang telah diambil akan dianalisa di laboratorium untuk mendeteksi respons antibodi terhadap HIV atau materi genetik (DNA atau RNA) HIV di dalam darah. Hasil tes ELISA umumnya akan keluar dalam 2-4 hari, hasil tes Western Blot atau IFA membutuhkan waktu 1-2 minggu, sedangkan hasil tes PCR membutuhkan waktu 2-6 minggu.

Ada beberapa jenis hasil tes HIV, yaitu:

  • Normal atau negatif. Hasil tes dikatakan normal atau negatif jika:
    • Tidak ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien.
    • Tes PCR tidak mendeteksi keberadaan RNA atau DNA HIV.
  • Abnormal atau positif. Hasil tes dikatakan abnormal atau positif jika:
    • Ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien.
    • Tes PCR mendeteksi keberadaan materi genetik HIV (RNA atau DNA).
  • Tidak dapat ditentukan (indeterminate result). Hasil tes tidak menunjukkan secara jelas apakah pasien terinfeksi HIV atau tidak. Kondisi ini mungkin terjadi ketika antibodi HIV belum berkembang atau ketika jenis antibodi lain mengganggu hasil tes. Jika ini terjadi, tes PCR dapat dilakukan untuk melihat keberadaan virus. Pasien yang tetap memiliki hasil tes tidak tentu selama 6 bulan atau lebih disebut stable indeterminate dan dianggap tidak terinfeksi HIV.

Jika hasil tes HIV negatif, bukan berarti pasien tidak terinfeksi HIV. Pasien mungkin masih dalam masa inkubasi virus atau di dalam masa jendela, yaitu rentang waktu mulai dari awal penularan hingga muncul antibodi HIV. Dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani tes ulang 3 bulan setelah tes pertama. Hal ini dilakukan untuk memastikan hasil tes dan sebagai langkah pencegahan penyebaran virus. Jika hasil tes HIV ulang tetap negatif, maka dokter akan menyatakan Anda tidak terinfeksi virus HIV, namun tetap merekomendasikan pemeriksaan HIV secara berkala untuk deteksi dini infeksi HIV

Jika pasien dinyatakan positif terinfeksi HIV, maka pasien dan dokter dapat berdiskusi untuk merencanakan langkah dan jenis terapi pengobatan yang akan dijalani pasien. Ada beberapa langkah awal yang akan dianjurkan oleh dokter setelah terdiagnosis HIV, antara lain:

  • Berdiskusi dengan sesama penderita HIV akan sangat membantu pasien dalam melalui masa awal setelah diagnosis.
  • Mengonsumsi obat antiretroviral (ART) untuk menghambat perkembangan HIV dan membantu melindungi sistem imun tubuh pasien, dan risiko penularan juga dapat ditekan.
  • Menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mencegah kemungkinan adanya penyakit menular seksual (STD).
  • Menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan.
  • Meminta pasangan Anda untuk menjalani tes HIV.

Risiko Tes HIV

Prosedur pengambilan darah untuk tes HIV umumnya aman dilakukan dan jarang menimbulkan efek samping. Apabila ada, pasien mungkin hanya mengalami efek samping ringan, seperti:

  • Pusing atau sakit kepala.
  • Muncul memar kecil (hematoma) di area suntikan.
  • Lengan terasa nyeri dan lemas.
  • Infeksi pada area suntikan.

Efek samping psikologis mungkin terjadi, terutama jika pasien dinyatakan positif terinfeksi HIV. Pasien akan mengalami depresi, cepat marah, dan cemas.

Perdarahan dapat terjadi pada pasien dengan gangguan pembekuan darah. Konsumsi obat pengencer darah, seperti aspirin dan warfarin, sebelum prosedur pengambilan darah akan meningkatkan risiko perdarahan. Segera hubungi dokter jika mengalami kondisi ini.

Ditinjau oleh : dr. Tjin Willy

Referensi

" alt="" width="100%" height="250">

Tes HIV adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi infeksi HIV pada tubuh pasien. Dengan terdeteksinya HIV, selain bermanfaat bagi dirinya sendiri, individu tersebut juga bisa lebih berhati-hati agar tidak menyebarkan HIV kepada orang lain.

Ada dua metode dalam tes HIV, yaitu tes HIV yang memeriksa antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi HIV, dan tes HIV yang memeriksa keberadaan virus tersebut dalam tubuh. Tes HIV memiliki beberapa fungsi penting antara lain untuk mencegah penyebaran HIV, mendeteksi infeksi HIV sejak dini, serta mendeteksi darah, produk darah, atau organ dari pendonor sebelum diberikan kepada pasien lain. Dengan deteksi sejak dini, maka pengobatan menjadi lebih cepat, serta risiko penularan virus dapat diturunkan.

Indikasi Tes HIV

Tes HIV sebaiknya dilakukan oleh setiap individu, terutama yang berusia antara 13-64 tahun, sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan secara rutin. Namun, dokter akan menganjurkan tes HIV pada beberapa orang dengan kondisi sebagai berikut:

  • Memiliki gejala yang terduga HIV atau terdiagnosis dengan gangguan kesehatan tertentu, antara lain penyakit menular seksual, hepatitis B atau C, tuberkulosis, dan limfoma.
  • Sering berganti pasangan dan melakukan hubungan seksual tanpa kondom.
  • Berhubungan seks sesama jenis.
  • Menggunakan obat-obatan melalui suntik atau infus dan berbagi alat suntik.
  • Wanita hamil atau menyusui.
  • Bayi yang baru dilahirkan oleh wanita penderita HIV.
  • Menerima transfusi darah dari pendonor yang berasal dari negara dengan jumlah penderita HIV yang tinggi

Dokter menganjurkan pasien yang berisiko tinggi terhadap HIV untuk menjalani tes HIV tiap setahun sekali secara rutin. Untuk pasien yang diduga terpapar virus HIV, tes sebaiknya dilakukan pada 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan sejak pertama kali terpapar virus.

Peringatan Tes HIV

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi hasil tes HIV, antara lain:

  • Memiliki gangguan kesehatan, seperti penyakit autoimun, leukemia, atau sifilis.
  • Konsumsi obat kortikosteroid.
  • Masa jendela (window period), yaitu periode di mana antibodi terhadap HIV belum terbentuk, sehingga hasil tes masih negatif.
  • Konsumsi minuman beralkohol berlebihan.

Keadaan di atas dapat membuat hasil tes HIV positif walaupun pasien tidak terinfeksi HIV (positif palsu), atau sebaliknya hasil tes negatif padahal pasien terinfeksi HIV (negatif palsu).

Sebelum Tes HIV

Umumnya, pasien tidak memerlukan persiapan khusus sebelum menjalani tes HIV. Namun, dokter akan menawarkan konseling sebelum dan setelah tes untuk membahas berbagai hal, antara lain:

  • Bagaimana tes HIV dilakukan, interpretasi hasil tes, dan tes lain yang mungkin dilakukan.
  • Bagaimana diagnosis infeksi HIV dapat memengaruhi pandangan sosial, emosional, profesional, dan finansial pasien.
  • Berbagai manfaat diagnosis dan pengobatan sejak dini.

Penting untuk memberi tahu dokter bagaimana dan di mana dokter dapat menghubungi Anda ketika hasil tes keluar.

Jenis Tes HIV

Tes HIV terdiri atas beragam jenis dan tidak ada tes HIV yang sempurna. Karena itu, terkadang perlu dilakukan beberapa tes atau pengulangan terhadap tes untuk memastikan diagnosis.

Ada tiga jenis utama tes HIV, antara lain:

  • Tes antibodi, yaitu jenis pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV adalah protein yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap infeksi HIV. Tes antibodi terdiri atas beberapa jenis, antara lain:
    • ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). ELISA merupakan tes HIV yang umumnya digunakan sebagai langkah awal untuk mendeteksi antibodi HIV. Sampel darah yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium dan dimasukkan ke dalam wadah yang telah diberi antigen HIV. Selanjutnya, enzim akan dimasukkan ke dalam wadah tersebut untuk mempercepat reaksi kimia antara darah dan antigen. Jika darah mengandung antibodi HIV, maka darah akan mengikat antigen tersebut di dalam wadah.
    • IFA (immunofluorescene antibody assay). Tes yang dilakukan dengan menggunakan pewarna fluoresens untuk mengidentifikasi keberadaan antibodi HIV. Pengamatan dilakukan dengan bantuan mikroskop beresolusi tinggi. Tes ini biasanya digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA.
    • Western Blot. Tes yang dilakukan dengan menggunakan metode pemisahan protein antibodi yang diekstrak dari sel darah. Sebelumnya, tes ini juga digunakan untuk mengonfirmasi hasil tes ELISA, namun saat ini Western Blot sudah jarang digunakan sebagai tes HIV.
  • Tes PCR (polymerase chain reaction). Tes yang digunakan untuk mendeteksi RNA atau DNA HIV dalam darah. Tes PCR dilakukan dengan cara memperbanyak DNA melalui reaksi enzim. Tes PCR dapat dilakukan untuk memastikan keberadaan virus HIV ketika hasil tes antibodi masih diragukan.
  • Tes kombinasi antibodi-antigen (Ab-Ag test). Tes yang dilakukan untuk mendeteksi antigen HIV yang dikenal dengan p24 dan antibodi HIV-1 atau HIV-2. Dengan mengidentifikasi antigen p24, maka keberadaan virus HIV dapat terdeteksi sejak dini sebelum antibodi HIV diproduksi dalam tubuh. Tubuh umumnya membutuhkan waktu 2-6 minggu untuk memproduksi antigen dan antibodi sebagai respons terhadap infeksi.

Prosedur Tes HIV

Tes HIV umumnya dilakukan melalui prosedur pengambilan sampel darah. Langkah-langkah pengambilan darah adalah sebagai berikut:

  • Lengan atas pasien akan diikat dengan tali elastis untuk membendung aliran darah, sehingga pembuluh darah di bawah ikatan membesar dan akan lebih mudah menusuk jarum ke pembuluh darah vena.
  • Area kulit yang akan ditusuk jarum dibersihkan dengan alkohol.
  • Dokter akan menusukkan ujung jarum ke dalam vena dan memasang tabung pada ujung lainnya, kemudian darah akan terisi ke dalam tabung.
  • Setelah jumlah darah yang diambil cukup, dokter akan melepaskan tali elastis dari lengan pasien.
  • Kapas atau kain kasa beralkohol digunakan untuk menekan area suntikan ketika jarum dilepas.
  • Dokter akan menutup area suntikan dengan perban atau plester luka.

Hasil Tes HIV dan Setelah Tes HIV

Sampel darah yang telah diambil akan dianalisa di laboratorium untuk mendeteksi respons antibodi terhadap HIV atau materi genetik (DNA atau RNA) HIV di dalam darah. Hasil tes ELISA umumnya akan keluar dalam 2-4 hari, hasil tes Western Blot atau IFA membutuhkan waktu 1-2 minggu, sedangkan hasil tes PCR membutuhkan waktu 2-6 minggu.

Ada beberapa jenis hasil tes HIV, yaitu:

  • Normal atau negatif. Hasil tes dikatakan normal atau negatif jika:
    • Tidak ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien.
    • Tes PCR tidak mendeteksi keberadaan RNA atau DNA HIV.
  • Abnormal atau positif. Hasil tes dikatakan abnormal atau positif jika:
    • Ditemukan antibodi HIV di dalam darah pasien.
    • Tes PCR mendeteksi keberadaan materi genetik HIV (RNA atau DNA).
  • Tidak dapat ditentukan (indeterminate result). Hasil tes tidak menunjukkan secara jelas apakah pasien terinfeksi HIV atau tidak. Kondisi ini mungkin terjadi ketika antibodi HIV belum berkembang atau ketika jenis antibodi lain mengganggu hasil tes. Jika ini terjadi, tes PCR dapat dilakukan untuk melihat keberadaan virus. Pasien yang tetap memiliki hasil tes tidak tentu selama 6 bulan atau lebih disebut stable indeterminate dan dianggap tidak terinfeksi HIV.

Jika hasil tes HIV negatif, bukan berarti pasien tidak terinfeksi HIV. Pasien mungkin masih dalam masa inkubasi virus atau di dalam masa jendela, yaitu rentang waktu mulai dari awal penularan hingga muncul antibodi HIV. Dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani tes ulang 3 bulan setelah tes pertama. Hal ini dilakukan untuk memastikan hasil tes dan sebagai langkah pencegahan penyebaran virus. Jika hasil tes HIV ulang tetap negatif, maka dokter akan menyatakan Anda tidak terinfeksi virus HIV, namun tetap merekomendasikan pemeriksaan HIV secara berkala untuk deteksi dini infeksi HIV

Jika pasien dinyatakan positif terinfeksi HIV, maka pasien dan dokter dapat berdiskusi untuk merencanakan langkah dan jenis terapi pengobatan yang akan dijalani pasien. Ada beberapa langkah awal yang akan dianjurkan oleh dokter setelah terdiagnosis HIV, antara lain:

  • Berdiskusi dengan sesama penderita HIV akan sangat membantu pasien dalam melalui masa awal setelah diagnosis.
  • Mengonsumsi obat antiretroviral (ART) untuk menghambat perkembangan HIV dan membantu melindungi sistem imun tubuh pasien, dan risiko penularan juga dapat ditekan.
  • Menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mencegah kemungkinan adanya penyakit menular seksual (STD).
  • Menggunakan kondom ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan.
  • Meminta pasangan Anda untuk menjalani tes HIV.

Risiko Tes HIV

Prosedur pengambilan darah untuk tes HIV umumnya aman dilakukan dan jarang menimbulkan efek samping. Apabila ada, pasien mungkin hanya mengalami efek samping ringan, seperti:

  • Pusing atau sakit kepala.
  • Muncul memar kecil (hematoma) di area suntikan.
  • Lengan terasa nyeri dan lemas.
  • Infeksi pada area suntikan.

Efek samping psikologis mungkin terjadi, terutama jika pasien dinyatakan positif terinfeksi HIV. Pasien akan mengalami depresi, cepat marah, dan cemas.

Perdarahan dapat terjadi pada pasien dengan gangguan pembekuan darah. Konsumsi obat pengencer darah, seperti aspirin dan warfarin, sebelum prosedur pengambilan darah akan meningkatkan risiko perdarahan. Segera hubungi dokter jika mengalami kondisi ini.


Tes HIV dan Hal | Bang Naga | on 2018-06-12T13:59:25+07:00"/> 4.5
loading...